Kabar baik datang dari penanganan dampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi adanya penurunan drastis hingga hampir 87 persen pada angka kasus harian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipicu oleh asap karhutla. Penurunan signifikan ini terjadi seiring tingginya curah hujan yang mulai mengguyur sejumlah titik api di wilayah terdampak.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, lonjakan kasus harian ISPA yang sempat menyentuh angka puncaknya di kisaran 15.000 kasus per hari, kini melandai secara konsisten ke rentang 1.500 hingga 2.000 kasus per hari. Tren positif ini tercatat merata di tujuh provinsi terimbas karhutla, mulai dari Jambi di Pulau Sumatra hingga Kalimantan Tengah.
Curah Hujan Tekan Lonjakan Kasus ISPA
Saat memberikan keterangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Menkes Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor krusial yang mempercepat pemulihan kualitas udara dan penurunan angka kesakitan masyarakat.
“Kami terus memantau data harian secara mendalam. Pada titik puncak krisis, laporan kasus harian sempat mencapai rentang 15.000 pasien. Sebelum hujan turun, angka tersebut sebenarnya sudah mulai merosot ke kisaran 3.000 kasus per hari. Kini, seiring turunnya hujan, angka tersebut berhasil ditekan lebih jauh ke tingkat 1.500 hingga 2.000 kasus,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Zona Merah dan Hitam Mulai Menyusut
Tidak hanya pada skala provinsi, pemulihan juga terlihat nyata di tingkat kabupaten dan kota. Pemetaan indikator keparahan dampak karhutla mencatat penurunan tajam pada jumlah daerah yang masuk dalam kriteria paling parah atau kategori “zona hitam”—wilayah dengan indikasi kasus ISPA melebihi 300 kejadian per hari.
Dari total 81 kabupaten/kota terdampak, sebelumnya terdapat sekitar 50 daerah yang tergolong dalam zona hitam tersebut. Namun, hasil peninjauan lapangan dan validasi data terkini menunjukkan angka daerah berstatus krisis tersebut telah menyusut drastis hingga tersisa belasan daerah saja.
Tantangan Pemadaman Lahan Gambut
Kendati menunjukkan perbaikan skala besar, pemerintah menyadari bahwa ancaman belum sepenuhnya usai, terutama yang berkaitan dengan pemadaman api di kawasan lahan gambut. Karakteristik kebakaran gambut yang menjangkau lapisan bawah tanah memerlukan pasokan air berintensitas tinggi agar titik api benar-benar padam total.
“Kami sangat berharap curah hujan terus terjaga stabil. Hujan alami ini sangat vital untuk memadamkan bara api di lahan gambut yang membutuhkan penyerapan air hingga ke lapisan tanah terdalam. Penanganan vegetasi bawah permukaan ini yang menjadi kunci utama menuntaskan masalah asap secara permanen,” pungkas Menkes seraya mengimbau masyarakat untuk terus mendukung upaya penanggulangan bencana ini.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post