MALANG TODAY — Di tengah hiruk-pikuk disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan dominasi raksasa teknologi yang kian tak tersentuh hukum, Silicon Valley kini tengah mengalami krisis eksistensial. Retorika kebebasan dan inovasi tanpa batas yang selama ini digaungkan para penguasa teknologi mulai menyingkap tabir aslinya: sebuah ideologi tekno-libertarian radikal yang menolak regulasi, namun diam-diam mengeruk keuntungan maksimal dari infrastruktur publik. Pertanyaan besarnya, bagaimana industri ini bisa melenceng begitu jauh?
Jawabannya ternyata telah diramalkan dengan sangat presisi seperempat abad yang lalu. Buku bertajuk “Cyberselfish” karya penulis senior Paulina Borsook, yang pertama kali terbit pada tahun 2000 dan sempat melenyap dari peredaran, kini bangkit kembali. Penerbit Tin House memutuskan untuk mencetak ulang karya monumental ini setelah generasi baru pelaku industri dan akademisi global berbondong-bondong berburu salinan bekasnya demi memahami akar kompas moral Silicon Valley yang dinilai telah rusak.
Nubuatan yang Terabaikan Seperempat Abad
Ketika pertama kali dirilis di puncak era dot-com boom, karya Borsook dianggap angin lalu oleh ekosistem yang saat itu sedang mabuk investasi. Industri teknologi kala itu lebih menyukai narasi-narasi heroik dan selebratif. Namun, waktu membuktikan bahwa dokumentasi kritis Borsook mengenai kultur independensi palsu di Silicon Valley adalah diagnosa yang sangat akurat.
Borsook mencermati lahirnya kultur tekno-libertarian sejak era 1980-an hingga 1990-an di Bay Area. Ia menemukan kejanggalan mendasar dalam pola pikir para perintis teknologi: sebuah pandangan dunia ala anak usia 12 tahun yang sangat anti-regulasi dan membenci campur tangan pemerintah. Padahal, secara historis, tidak ada sektor industri di dunia yang paling banyak menerima subsidi, riset mendasar (R&D), dan perlindungan dari negara melebihi industri teknologi itu sendiri.
Kultur egoistis ini, menurut Borsook, tidak pernah benar-benar terkoreksi bahkan setelah gelembung dot-com pecah. Perilaku tersebut justru mengendap dan mencemari ekosistem bisnis teknologi secara perlahan hingga meretas ke struktur kekuasaan hari ini.
Dua Kutub Penguasa Teknologi: Antara ‘Ravers’ dan ‘Gilders’
Dalam narasinya, Borsook membagi faksi budaya Silicon Valley ke dalam dua kelompok besar yang secara tidak sadar membentuk lanskap industri modern. Kelompok pertama adalah Gilders—mengambil nama dari pemikir konservatif George Gilder—yang mewakili faksi sosial konservatif, reaksioner, dan berpandangan keras. Faksi inilah yang hari ini menjelma menjadi jajaran eksekutif berhaluan kanan ekstrem dan nasionalis di panggung politik global.
Kutub kedua adalah Ravers, merujuk pada kultur liberal yang lekat dengan kebebasan personal, festival Burning Man, eksplorasi gaya hidup, hingga dinamika komunitas Effective Altruism. Kendati tampak bertolak belakang, kedua faksi ini disatukan oleh satu benang merah yang sama: penolakan mendasar terhadap kepatuhan sosial dan tanggung jawab kewargaan.
Fenomena pengindikasian tersebut terlihat nyata pada ekspansi platform-platform digital seperti layanan berbagi hunian atau transportasi daring. Model bisnis tersebut dinilai kerap kali menyamarkan rekayasa finansial murni sebagai “inovasi teknologi”, sembari secara agresif merusak tatanan pasar perumahan lokal dan menolak bertindak sebagai korporasi yang bertanggung jawab di masyarakat.
Booming AI: Gelembung Skema Ponzi Baru?
Menyoroti tren kecerdasan buatan generatif yang saat ini menyedot hampir seluruh modal ventura global, Borsook memberikan pandangan yang sangat menohok. Ia mengamati bahwa histeria AI saat ini mencerminkan puncak dari kultur tekno-libertarian yang merasa paling jenius dan tidak tersentuh oleh aturan hukum.
Dinamika AI yang berkembang hari ini lebih didorong oleh spekulasi nilai saham demi memuaskan pemegang saham (stockholder theory of value) ketimbang nilai kebergunaan substansial bagi peradaban. Pola penggalangan dana fantastis tanpa kejelasan batas etika dan dampak sosial ini mengarah pada indikasi gelembung keuangan baru yang berisiko tinggi.
Evolusi kultur ini juga menandai pergeseran drastis pada raksasa-raksasa teknologi. Perusahaan yang dahulu dipuja oleh kalangan kreatif sebagai simbol pembebasan, kini bertransformasi menjadi korporasi dingin yang terasing dari nilai-nilai kemanusiaan yang pernah mereka agungkan sendiri.
Dilema Generasi Baru dan Harapan Reformasi Industri
Kebangkitan kembali buku ini memicu diskursus hangat di kalangan insinyur muda, pengembang perangkat lunak, dan mahasiswa ilmu komputer. Banyak di antara mereka yang menolak ideologi toksik para tech overlords, namun terjebak dalam dilema kerjaya akibat dominasi permodalan yang terkonsentrasi pada proyek-proyek AI berskala masif atau industri pertahanan.
Model bisnis masa lalu—di mana dua orang pendiri bisa membangun perusahaan konsultan kecil atau mengawali startup secara mandiri (bootstrapping) tanpa pertumbuhan yang dipaksakan menjadi raksasa—kini semakin tergerus. Kendati demikian, celah untuk meretas perubahan tetap terbuka.
Pengembangan teknologi tepat guna (appropriate technology) yang berfokus pada keberlanjutan dan kemanusiaan diharapkan dapat menjadi jalan keluar. Masa depan ekosistem teknologi akan sangat bergantung pada apakah para bakat muda ini mampu membangun entitas independen baru, atau justru mampu memaksa para raksasa hyperscaler untuk mengubah paradigma amoral mereka dari dalam.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.










Discussion about this post