BUSAN – Kemunculan seekor hiu berukuran besar di saluran air dangkal kota Busan, Korea Selatan, mendadak menggegerkan publik dan menjadi fenomena sosial yang luar biasa. Hiu sepanjang 3,5 meter yang tersesat di kanal buatan dekat kawasan pelabuhan tersebut berhasil menarik perhatian lebih dari 1,6 juta pengunjung sebelum akhirnya berhasil digiring kembali ke laut lepas.
Peristiwa langka ini bermula pada pertengahan September lalu. Ahli biologi kelautan dari National Institute of Fisheries Science, Kim Hyun-woo, mendapat panggilan darurat dari penjaga pantai saat perjalanan pulang usai menjalankan tugas pemantauan rutin. Ia diminta memimpin langsung operasi penyelamatan satwa laut yang langka terjadi di area perkotaan padat penduduk tersebut.
Sensasi Viral dan Maskot Mendadak Kota Busan
Identifikasi awal mengonfirmasi bahwa satwa tersebut adalah hiu kelabu (dusky shark) betina. Meski spesies ini tergolong tidak agresif terhadap manusia, pemerintah kota tetap mengeluarkan peringatan darurat agar warga yang memadati area tepi kanal selalu berhati-hati.
Alih-alih membuat panik, peringatan tersebut justru memicu gelombang kedatangan warga. Taman di sepanjang kanal yang semula sepi mendadak dipadati lautan manusia. Hiu tersebut kemudian diberi nama julukan “Bukangi”, merujuk pada kata bukhang yang berarti pelabuhan utara setempat.
Dalam kurun waktu singkat, Bukangi menjelma menjadi ikon budaya populer. Berbagai pernak-pernik seperti pin, kaos, hingga boneka bergambar Bukangi laku keras secara daring. Pemerintah kota bahkan memanfaatkan momen ini dengan menayangkan siaran langsung aktivitas sang hiu dan menjadikannya maskot tak resmi untuk menarik dukungan publik terhadap berbagai program pembangunan kota.
Ancaman Kesehatan dan Hambatan Penyelamatan
Meski kehadiran Bukangi membawa keceriaan bagi masyarakat, para ahli biologi kelautan justru mengkhawatirkan keselamatan satwa tersebut. Berada di lingkungan buatan berdinding beton membuat Bukangi mengalami stres dan luka fisik. Moncong dan sirip dadanya dilaporkan lecet berdarah akibat gesekan berulang dengan dinding kanal.
Pakar biologi kelautan, Profesor Choi Yoon, mengindikasikan bahwa cedera di sekitar mata dan jaringan sensitif pada moncong hiu dapat memicu infeksi fatal jika tidak segera ditangani. Selain itu, penurunan suhu air menjelang musim gugur juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidupnya.
Para ahli menduga Bukangi tersesat hingga ke kanal akibat perubahan suhu laut global yang memicu pergeseran jalur migrasi ikan. Gangguan navigasi sensor elektromagnetik serta kebisingan lalu lintas kapal di Pelabuhan Busan disinyalir menjadi alasan utama mengapa hiu tersebut tidak bisa menemukan jalan keluar secara mandiri.
Operasi Evakuasi Skala Besar
Melihat kondisi kesehatan hiu yang semakin memprihatinkan, Kementerian Kelautan Korea Selatan mengambil alih penuh operasi penyelamatan. Sebanyak 40 personel gabungan yang terdiri dari tim penyelam profesional akuarium Busan, ahli medis hewan, dan petugas keamanan dikerahkan ke lokasi.
Berbagai metode evakuasi sempat mengalami kegagalan. Penggunaan alat penghalau sinyal listrik hingga pendorongan dengan jet air tidak membuahkan hasil karena sang hiu terus berputar kembali ke dalam kanal sempit.
Operasi akhirnya membuahkan hasil setelah tim memasang dan memanipulasi barikade jaring berlapis. Setelah proses bimbingan yang ketat, Bukangi berhasil diarahkan melintasi jaring terluar menuju muara perairan terbuka.
Kembali ke Habitat Asli
Saat ini, Bukangi dilaporkan sudah tidak lagi terlihat di sekitar perairan kanal Busan. Para peneliti menilai hilangnya keberadaan hiu tersebut di area dangkal sebagai indikasi positif bahwa satwa tersebut telah mulai berenang menuju perairan laut dalam yang lebih aman dan hangat.
Meskipun sebagian warga sempat berunjuk rasa menginginkan Bukangi tetap berada di kanal, mayoritas peneliti menekankan pentingnya mengembalikan satwa liar ke ekosistem aslinya. Kini, masyarakat Korea Selatan berharap Bukangi dapat pulih sepenuhnya dari cedera dan melanjutkan kehidupan alaminya di lautan lepas.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post