MALANG TODAY – Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menaikkan proyeksi pertumbuhan perdagangan barang global untuk tahun 2026 menjadi 3,9 persen. Angka ini melonjak signifikan dari perkiraan awal pada Maret lalu yang berada di level 1,9 persen. Lonjakan proyeksi ini didorong oleh fleksibilitas penyesuaian rantai pasok global serta tingginya investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Kendati proyeksi perdagangan barang mencatatkan tren positif, WTO justru merevisi turun prospek perdagangan jasa komersial pada 2026 dari 4,8 persen menjadi 3,3 persen. Penurunan pada sektor jasa ini tidak lepas dari meluasnya dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Adaptasi Rantai Pasok dan Lonjakan Sektor AI
Berdasarkan laporan terbaru Global Trade Outlook and Statistics, volume perdagangan barang pada paruh pertama tahun 2026 tercatat tumbuh 3,5 persen, melampaui estimasi awal di tengah gangguan ketidakstabilan global. Kinerja positif ini membuktikan ketangguhan rantai pasok dalam beradaptasi terhadap guncangan di sektor energi, pupuk, dan moda transportasi.
Meskipun ekspor minyak mentah dari Timur Tengah anjlok sekitar 24 persen dan pasokan gas alam cair (LNG) merosot 47 persen pada paruh pertama 2026, pasokan dari wilayah alternatif berhasil menutup celah tersebut. Peningkatan pasokan dari produsen lain menekan penurunan ekspor global minyak mentah hingga hanya berada di kisaran 6 persen dan LNG sebesar 1 persen.
Di sisi lain, sektor kecerdasan buatan menjadi motor penggerak utama. Produk-produk pendukung infrastruktur AI, seperti semikonduktor dan server, menyumbang 47 persen dari total pertumbuhan perdagangan barang global. Sektor komoditas teknologi ini mencatatkan lonjakan fantastis hingga 67 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Tantangan Perdagangan Jasa dan Prospek Ekonomi Mapan
Konflik yang meluas di Timur Tengah memberikan tekanan tajam pada layanan transportasi dan perjalanan. Hal ini memicu perlambatan pertumbuhan nilai perdagangan jasa dari 14 persen pada kuartal pertama menjadi 10 persen pada kuartal kedua 2026. Kendati demikian, layanan berbasis digital seperti jasa komputer dan keuangan masih terbukti tangguh dan menyokong stabilitas sektor jasa secara keseluruhan.
Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, menegaskan bahwa performa ini mencerminkan daya tahan perdagangan global dalam praktik nyata, meski berbagai risiko kerentanan masih membayangi. Sementara itu, Wakil Direktur Jenderal WTO, Johanna Hill, mengingatkan bahwa ketangguhan sistem perdagangan saat ini bukan berarti posisi ekonomi global sepenuhnya aman dari ancaman guncangan baru.
Untuk jangka panjang, WTO memproyeksikan Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global berada di angka 2,6 persen pada 2026 dan naik menjadi 2,9 persen pada 2027. Sejalan dengan perkiraan tersebut, volume perdagangan barang dan jasa pada 2027 diproyeksikan masing-masing dapat menguat ke level 4,1 persen dan 6,4 persen, dengan asumsi konflik geopolitik di Timur Tengah dapat teresolusi secara tepat waktu.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post