GAZA — Setahun pasca-pengumuman kesepakatan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, penderitaan warga sipil di Jalur Gaza tak kunjung mereda. Janji penghentian bentrokan dan pembukaan akses bantuan kemanusaian dinilai belum terealisasi sepenuhnya lantaran serangan militer masih terus terjadi hampir setiap hari dan menelan ribuan korban jiwa.
Data terbaru Kementerian Kesehatan Gaza yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 1.400 orang tewas akibat serangan Israel sejak kesepakatan damai dimulai. Angka tersebut menambah panjang daftar korban tewas di Gaza yang kini telah melampaui 74.000 jiwa sejak eskalasi konflik meningkat pada Oktober 2023 lalu.
Tragedi Pengungsi di Tengah Ancaman Penembakan
Kesepakatan gencatan senjata awalnya memberikan kelegaan bagi jutaan warga. Selain membuka jalur bantuan medis, kesepakatan tersebut sempat diwarnai pertukaran ribuan tahanan Palestina dengan 48 sandera warga negara Israel yang ditahan Hamas. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain bagi warga yang tinggal di kawasan pengungsian.
Duka mendalam dialami keluarga Fida al-Toutah (31). Ibu lima anak ini tewas tertembak di kepala saat sedang merawat putrinya di dalam tenda pengungsian pada September lalu. Rentetan peluru menembus kain tenda tipis yang mereka tempati, menambah deretan anggota keluarga yang gugur dalam konflik ini.
“Gencatan senjata itu tidak nyata. Setiap hari ada penembakan dan ancaman kematian,” ungkap Ahed, suami almarhumah Fida.
Kondisi serupa dialami keluarga Ismail al-Bardawil (14). Remaja tersebut tewas tertembak saat memancing beberapa puluh meter dari pantai al-Mawasi, Rafah. Catatan otoritas kesehatan setempat menunjukkan lebih dari 300 anak-anak turut menjadi korban tewas sejak gencatan senjata dideklarasikan.
Pihak militer Israel (IDF) menyatakan tidak memiliki catatan terkait insiden-insiden tersebut. Dalam berbagai kesempatan, IDF menegaskan bahwa operasi militer yang dijalankan hanya ditujukan untuk menargetkan anggota milisi Hamas yang dituduh terus melanggar aturan gencatan senjata.
Terjepit di ‘Garis Kuning’ dan Ancaman Krisis Musim Dingin
Sebagian besar dari 2,1 juta penduduk Gaza kini hidup menumpuk di wilayah yang kian menyempit. Banyak pengungsi terpaksa bermukim di dekat ‘Garis Kuning’—zona pembatas yang memisahkan area pendudukan militer Israel dengan wilayah kontrol Hamas.
Kawasan tersebut dikenal sangat rawan lantaran penembakan kerap terjadi. Namun, warga tak memiliki banyak pilihan karena ruang gerak yang tersisa kini hanya berkisar di bawah 40 persen dari total wilayah Jalur Gaza.
Selain ancaman keamanan, krisis kemanusiaan membayangi jutaan pengungsi yang tinggal di tenda-tenda darurat. Amal Alabadla, seorang arsitek yang kini menjadi orang tua tunggal bagi dua anaknya, menceritakan beratnya bertahan hidup di tenda pesisir pantai.
“Saat hujan, tempat ini banjir. Saat angin kencang, kami takut tenda ini hancur. Musim dingin membuat anak saya kerap mengalami serangan kejang karena kedinginan. Sekarang fokus kami hanyalah bertahan hidup hari demi hari,” tuturnya.
Kebuntuan Rekonstruksi dan Masa Depan Gaza
Rencana rekonstruksi besar-besaran di Jalur Gaza hingga kini masih berada di titik temu yang buntu. Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap pasokan bahan bangunan dan mesin yang masuk ke Gaza dengan alasan keamanan nasional.
Di tingkat diplomatik, negosiasi pelucutan senjata dan penarikan pasukan militer belum menemui kesepakatan. Pemerintah Israel menegaskan penarikan pasukan tidak akan dilakukan sebelum kelompok Hamas dilucuti sepenuhnya. Di sisi lain, Hamas menuntut penghentian total seluruh bentuk agresi sebelum pembicaraan senjata berat dilakukan.
Meski wacana pemulihan Gaza berskala besar terus diusulkan oleh pihak internasional, warga lokal tetap bersikap skeptis. Bagi jutaan pengungsi di Gaza, kepastian akan masa depan yang aman dan pemulihan pemukiman masih menjadi impian yang jauh dari kenyataan.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post