MALANG – Amerika Serikat dan China kini terlibat dalam persaingan sengit untuk mendominasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Kedua negara adidaya tersebut berlomba menjadi yang terdepan dalam inovasi, sembari berupaya memastikan teknologi mutakhir ini tetap berada di bawah kendali manusia.
Ambisi Besar di Balik Perlombaan AI
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menegaskan ambisinya untuk memenangkan perlombaan AI. Baginya, supremasi di bidang ini jauh lebih krusial dibandingkan risiko yang mungkin ditimbulkan. Di sisi lain, meski tidak selalu dinyatakan secara gamblang, pemimpin China Xi Jinping memiliki pandangan serupa. Bagi Beijing, AI dipandang sebagai instrumen strategis untuk memperkuat posisi negara di panggung global.
Pakar dari Mercator Institute for China Studies, Rebecca Arcesati, menyebut bahwa China melihat AI sebagai perlombaan nyata. “Bagi mereka, AI adalah alat untuk memperbesar kekuatan negara,” ungkapnya. Sementara itu, Beijing melalui Kementerian Luar Negeri mereka justru memperingatkan bahwa narasi ancaman dan konfrontasi yang terus dibangun hanya akan menghambat tata kelola AI global, dan menyerukan pentingnya kerja sama internasional.
Siapa yang Memimpin: AS atau China?
Posisi terdepan dalam dunia AI sangat bergantung pada tolok ukur yang digunakan. Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat seperti Google, OpenAI, dan Anthropic saat ini masih mendominasi pengembangan frontier models—model AI tercanggih dengan kinerja tertinggi. Keunggulan AS didukung oleh aliran investasi masif yang memungkinkan pembangunan infrastruktur pelatihan model generasi berikutnya.
Sebaliknya, China memilih strategi yang berbeda. Fokus mereka tidak hanya pada model paling mutakhir, tetapi pada penerapan AI yang luas ke seluruh sektor ekonomi. Beijing banyak merilis model open-weight yang dapat diunduh dan dimodifikasi secara gratis, berbeda dengan model berpemilik (proprietary) milik perusahaan AS yang umumnya berbayar. Selain itu, China memiliki keunggulan dalam produksi robotika, dengan lebih dari dua juta robot beroperasi di pabrik-pabrik mereka, termasuk dominasi dalam pengiriman robot humanoid global.
Hambatan dan Ketahanan Inovasi
Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap penjualan mikrocip canggih ke China. Komponen ini merupakan elemen vital dalam pengembangan AI mutakhir. Namun, para pengembang di China menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Mereka menggunakan teknik distillation—metode belajar dari model yang lebih maju—untuk tetap kompetitif. Selain itu, akses listrik dengan biaya lebih rendah di China memberikan keuntungan operasional bagi pusat-pusat data mereka dibandingkan dengan perusahaan di AS.
Perbedaan Pendekatan Keamanan
Terdapat perbedaan mencolok dalam memandang risiko AI. Di Amerika Serikat, fokus utama adalah memacu inovasi dengan meminimalkan regulasi agar laboratorium tetap unggul. Trump bahkan menyatakan bahwa satu-satunya pembatas yang dibutuhkan AI adalah kepemimpinan yang tepat.
Sebaliknya, China mengadopsi pendekatan yang lebih terpusat dan hati-hati. Xi Jinping menekankan pentingnya mengawasi risiko AI agar teknologi tersebut tetap terkendali. Beijing telah lebih dulu memperkenalkan pedoman penggunaan data dan algoritma, yang menurut para ahli, memberikan ekspektasi jelas bagi pengembang tanpa harus mematikan kreativitas inovasi.
Masa Depan Kerja Sama Global
Meski persaingan terus memanas, pertemuan antara pemimpin AS dan China menjadi momen krusial. Pembahasan mengenai mekanisme pemberitahuan untuk insiden AI yang serius mulai diinisiasi oleh pejabat kedua negara. Namun, para analis mengingatkan bahwa tanpa pemahaman bersama mengenai bahaya nyata AI, kerja sama yang berarti akan sulit dicapai. Narasi persaingan yang tidak sehat dikhawatirkan justru akan semakin memperuncing ketegangan kedua negara di masa depan.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post