Komitmen Swasembada Susu Nasional dan Potensi Unggul Sapi Grati
Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan susu impor masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Saat ini, produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional, sementara sisanya harus dipasok dari luar negeri. Kondisi krusial ini menjadi perhatian serius DPR RI saat melakukan peninjauan langsung ke pusat peternakan sapi perah di wilayah Jawa Timur.
Ketua Komisi V DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, meninjau langsung operasional peternakan dan pengolahan susu di KUTT Sukamakmur, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan. Dalam kunjungan lapangan tersebut, Titiek menegaskan bahwa pemerintah pusat tengah merancang skema bantuan komprehensif, mulai dari pengadaan bibit sapi perah unggul hingga penyediaan lahan pakan hijau yang memadai guna mengejar target swasembada susu nasional.
“Kita semua ingin produksi lokal yang mendominasi. Namun, selama produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan gizi anak-anak kita, impor masih dilakukan secara terbatas. Langkah utamanya adalah memperkuat produksi lokal secara menyeluruh, tidak hanya mendatangkan sapi, tetapi juga menjamin ketersediaan lahan pakan hijau hingga ratusan hektare,” ujar Titiek di hadapan jajaran pengurus koperasi dan para peternak lokal.
Genom Sapi Grati: Inovasi Dataran Rendah Punya Pasuruan untuk Indonesia
Menanggapi fokus pemerintah pusat dalam memacu produksi susu segar, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo mengungkapkan bahwa daerahnya memiliki komoditas peternakan strategis yang siap mendukung ketahanan pangan nasional, yakni Genom Sapi Grati. Plasma nutfah khas Jawa Timur ini memiliki keunggulan adaptasi luar biasa yang tidak dimiliki oleh jenis sapi perah impor pada umumnya.
Berbeda dengan kawasan sentra sapi perah seperti Tutur, Puspo, maupun kawasan Bromo yang berada di dataran tinggi, kawasan Grati terletak di dataran rendah yang sangat dekat dengan garis pantai. Riset mendalam mengenai pengembangan genetika Sapi Grati telah rampung dilakukan dan kini sedang memasuki tahapan legalisasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
“Genom Sapi Grati ini sangat unik dan hanya ada di daerah kita. Sapinya sangat tahan terhadap penyakit, membutuhkan asupan pakan yang relatif lebih sedikit, namun mampu menghasilkan produksi susu yang melimpah meskipun dipelihara di wilayah dataran rendah beriklim hangat,” jelas Rusdi Sutejo.
Siap Diaplikasikan ke Daerah Lain Demi Ketahanan Pangan
Pengembangan riset Genom Sapi Grati tidak hanya diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan peternak di wilayah Grati dan Nguling semata. Pemerintah Kabupaten Pasuruan bersama jaringan koperasi peternakan menyatakan kesiapannya untuk mendistribusikan teknologi genetika unggul ini ke berbagai daerah lain di Indonesia yang ingin membangkitkan kembali industri susu perah berbasis peternakan rakyat.
Langkah inovatif dari kawasan pesisir Jawa Timur ini diharapkan dapat menjadi jalan keluar atas tantangan geografis pengembangan sapi perah nasional, yang selama ini selalu diidentikkan hanya bisa berkembang di wilayah pegunungan atau dataran tinggi.
“Kami sangat terbuka untuk mendukung daerah lain di Indonesia yang ingin memanfaatkan keunggulan Genom Sapi Grati. Pemerintah daerah siap memberikan dukungan penuh selama hal tersebut ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan kedaulatan susu nasional,” tegas Rusdi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post