JAKARTA — Terobosan teknologi di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional berhasil mencatatkan nilai keekonomian baru bagi komoditas yang sebelumnya kurang diminati pasar. PT Pertamina EP melalui afiliasinya PT Pertamina Hulu Energi (Subholding Upstream Pertamina) memelopori penerapan teknologi pengolahan gas alam berkadar karbon dioksida (CO2) tinggi di Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP ABG) Stage 1, Lapangan Jatibarang, Jawa Barat.
Inovasi ini mampu mereduksi kandungan CO2 hingga 60 persen—sebuah capaian pemisahan gas asam skala operasional tertinggi di Indonesia. Hasilnya, pasokan gas alam yang awalnya bernilai rendah karena sifatnya yang korosif kini ditransaksikan dengan harga komersial puncak senilai US$ 9 per MMBTU.
Solusi atas Tantangan Monetisasi Gas Alam Berkarbon Tinggi
Kandungan CO2 tinggi selama ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam memonetisasi cadangan gas baru di tanah air. Lapangan seperti Subang (20%), Cilamaya (40%), Point A Aceh (19,39%), hingga Natuna D-Alpha (72%) menghadapi persoalan serupa. Tingginya kadar CO2 tidak hanya menurunkan nilai kalor dan mengganggu proses pembakaran, tetapi juga berisiko tinggi memicu korosi pada jaringan pipa apabila bercampur dengan uap air hingga membentuk asam karbonat.
Guna mengatasi kendala teknis tersebut di Lapangan Akasia Bagus, Pertamina membangun fasilitas produksi terpadu yang dilengkapi teknologi CO2 Removal Package berbasis amine system (MDEA). Teknologi ini berfungsi memisahkan molekul gas rumah kaca secara efisien sebelum dialirkan ke jaringan distribusi utama.
Supervisor SP ABG Jatibarang Field, Dendy Gradienda, menegaskan bahwa fasilitas pengolahan ini didesain secara khusus untuk mendongkrak ketahanan energi sekaligus mengoptimalkan potensi pendapatan bisnis.
“Dengan adanya upaya meningkatkan produksi dan ketahanan energi, kami menyusun rencana serta berinvestasi agar 65% potensi yang ada dapat dimanfaatkan dan dimonetisasi nilai keekonomiannya,” kata Dendy. Ia juga mengklaim pengolahan di SP ABG saat ini menjadi salah satu unit pelopor di tingkat domestik maupun global yang sanggup memproses eliminasi CO2 dalam persentase yang signifikan.
Peluang Replikasi dan Target Produksi 2026
Tingginya daya saing komersial gas hasil olahan SP ABG dibuktikan pada ajang Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) ke-50 di Tangerang. Pada helatan industri energi tersebut, gas produksi SP ABG berhasil mengamankan kesepakatan komersial pasar dengan harga jual mencapai US$ 9 per MMBTU.
Salah satu langkah monetisasi strategis disepakati melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) antara Pertamina EP dengan PT Cikarang Listrindo Tbk. Perjanjian pasokan energi fosil bersih berjangka panjang hingga 16 September 2035 ini diproyeksikan bakal menopang keandalan pasokan daya industri di kawasan manufaktur Jawa Barat.
Manajemen Pertamina menilai keberhasilan operasional SP ABG Jatibarang memegang peranan krusial sebagai percontohan (pilot project) nasional. Ke depan, skema pemrosesan gas serupa berpotensi direplikasi pada blok-blok hulu dengan karakteristik komposisi gas sejenis, seperti Wilayah Kerja Natuna.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menyampaikan komitmen korporasi dalam mengawal proyek strategis ini. “Kami mendukung penuh agar kapasitas produksi di seluruh lingkungan Pertamina, khususnya di lingkungan Subholding Upstream, dapat terus meningkat secara berkelanjutan,” tegas Oki.
Saat ini, kapasitas produksi di SP ABG tercatat berkisar 10 hingga 11 MMSCFD (gross) dengan hasil bersih (net) di rentang 3,3 hingga 3,5 MMSCFD. Pertamina menargetkan peningkatan kapasitas penuh setelah tahap commissioning Thermal Oxidizer (TOX) diselesaikan pada akhir tahun ini atau awal tahun depan.
Memasuki tahun 2026, unit pengolahan tersebut akan mengoperasikan dua jalur pemrosesan (train) secara penuh. Pertamina menargetkan kapasitas gross keseluruhan mencapai 22 MMSCFD guna mengamankan target produksi bersih sebesar 8 MMSCFD pada penghujung tahun 2026.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post