Simfoni Tiga Hari di Gambir Expo: Catatan dari Pusaran Pestapora 2026
Sejak pertama kali menghentak pada 2022, Pestapora telah berevolusi dari sekadar festival musik pascapandemi menjadi sebuah ritual tahunan yang tak terelakkan. Menjadi saksi hidup selama lima edisi terakhir, kami melihat bagaimana festival garapan Boss Creator ini tumbuh menjadi barometer keriaan musik tanah air. Setelah sempat didera penyesuaian jadwal yang emosional pada 2025, tahun ini Pestapora kembali ke habitat aslinya: sebuah perayaan masif yang memadati area Gambir Expo selama tiga hari penuh dengan energi yang tak kunjung padam.
Hari Pertama: Nostalgia, Distorsi, dan Eksperimen Gila
Hari pertama dibuka dengan kejutan. Menempatkan Beside di panggung Klab Klub Stage saat matahari masih terik adalah sebuah anomali yang justru terasa segar. Intensitas metal yang mereka tawarkan menjadi pemanasan yang tidak biasa bagi para pengunjung. Tak jauh dari sana, Million Hope asal Padang mencuri perhatian lewat kolaborasi apik dengan Ardhito Pramono, sebuah pertukaran energi lintas genre yang manis.
Namun, puncak emosional hari pertama jatuh pada Pee Wee Gaskins. Merayakan satu dekade album A Youth Not Wasted, mereka berhasil memicu kor massal yang membawa memori kolektif kembali ke masa remaja. Lagu-lagu seperti “Kertas Dan Pena” dan “YAIGS (You and I Going South)” terasa seperti mesin waktu yang ampuh. Di sisi lain, Soundroom Stage menjadi saksi pertemuan antara distorsi liar Black Horses dan rima tajam Mister Nobody, sebuah tribut bagi semangat lintas genre era 90-an yang memikat.
Hari pertama juga ditandai dengan aksi Teenage Jazz Star. Meski kami melewatkan penampilan ini, konsep “menyewakan” panggung kepada musisi lain seperti Teddy Adhitya dan Oslo Ibrahim untuk membawakan materi jazz membuktikan bahwa band ini memang punya cara unik untuk menertawakan pakem festival.
Hari Kedua: Kendang, Saweran, dan Post-Rock yang Magis
Memasuki hari kedua, energi tidak mengendur meski antrean masuk sempat mengular. Burgerkill kembali membuktikan bahwa dentuman metal adalah pembuka terbaik, terbukti dari para Begundal yang tak peduli pada sengatan matahari. Sementara itu, Baale tampil dengan gimmick yang cukup memikat, membawa nuansa sinematik dari layar lebar langsung ke atas panggung.
Momen paling magis justru datang dari Under The Big Bright Yellow Sun di Klab Klub Stage. Kehadiran band post-rock instrumental ini, ditambah kolaborasi tak terduga dengan Vicky Mono, menjadi oase bagi penikmat musik yang mencari kedalaman emosional. Namun, kekacauan yang paling dinanti adalah Teenage Dut Star. Melihat Boiyen membawakan lagu-lagu TDS dengan logat Inggris yang jenaka, diiringi saweran dan Baale yang mendadak menjadi pemain kendang, adalah definisi dari “kekacauan yang menyenangkan” yang hanya bisa terjadi di Pestapora.
Hari Ketiga: Menutup Pesta dengan Silaturahmi
Hari terakhir adalah tentang konsistensi. Grrrl Gang kembali membuktikan mengapa mereka adalah salah satu penampil paling mumpuni saat ini; sound yang presisi dan aksi panggung yang menghibur menjadi sajian utama. Sementara itu, Asylum Uniform memberikan penampilan yang solid, meski atmosfer panggung yang lebih gelap sebenarnya akan jauh lebih mendukung estetika musik mereka.
Panggung utama pun pecah saat Syahrini naik ke atas panggung. Setelah vakum selama tujuh tahun, penampilannya menjadi salah satu yang paling diantisipasi. Dengan kolaborasi bersama Adrian Khalif dan NPD, serta celotehan khas yang memancing tawa, ia berhasil membuktikan bahwa karismanya masih sangat relevan.
Pada akhirnya, Pestapora 2026 bukan sekadar daftar panjang penampil. Ia adalah ruang temu, tempat di mana musik menjadi alasan untuk menyambung silaturahmi yang sempat terputus. Saat lampu panggung meredup di hari ketiga, yang tertinggal bukan hanya sisa-sisa euforia, tapi juga janji untuk kembali bertemu di titik temu yang sama tahun depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post