Katarsis Berdaya Ledak Tinggi dari Pelosok Cianjur
Dunia heavy rock lokal kembali mendapatkan pasokan amunisi segar dari lanskap yang mungkin jarang disorot: Cianjur. Kuintet rock destruktif, Souhaiter, baru saja melepaskan peluru ketiganya lewat single bertajuk “The Fleet Halcyon”. Bukan sekadar pamer ketebalan distorsi atau dentuman drum yang memukul dada, nomor teranyar ini hadir sebagai sebuah monumen katarsis yang mendalam—sebuah perjalanan spiritual tentang melipat masa lalu dan berdamai dengan kenyataan pahit.
Diisi oleh formasi solid Yuzar Djuandi (vokal), Agung Satrio (gitar), Keysha Puteri (gitar), Fathuran Althaf (drum), dan Taufan Bara (bas), Souhaiter berhasil menerjemahkan trauma personal menjadi aransemen musik yang megah sekaligus sentimentil. Lewat “The Fleet Halcyon”, mereka menegaskan bahwa musik cadas tidak melulu soal kemarahan tanpa arah, melainkan sebuah ruang penerimaan diri yang matang.
Metafora Mitologi dan Takdir yang Tak Terelakkan
Lirik yang ditulis oleh Yuzar Djuandi menjadi fondasi paling krusial dalam lagu ini. Mengambil pemicu dari hancurnya dinamika pertemanan hingga remuknya hubungan asmara, Yuzar tidak memilih untuk meratap. Sebaliknya, ia membedah luka-luka tersebut dan merajutnya kembali menjadi sebuah narasi filosofis yang kuat.
Salah satu poin paling menarik dari “The Fleet Halcyon” adalah keputusan Souhaiter untuk meminjam figur Atropos—salah satu dari tiga dewi takdir (Moirai) dalam mitologi Yunani—sebagai metafora utama. Sosok Atropos yang bertugas memotong benang kehidupan menggambarkan ketegasan takdir yang absolut.
“Arti nama Atropos sendiri adalah ‘yang tidak dapat diubah’ atau ‘tak terhindarkan’,” ungkap Yuzar saat menjelaskan konsep di balik penulisan liriknya. Karakter Atropos yang dingin, tanpa kompromi, dan tak goyah oleh penyesalan manusia, menjadi cermin sempurna bagi gagasan utama lagu ini: ada beberapa hal dalam hidup yang memang harus berakhir, dan satu-satunya pilihan rasional yang tersisa adalah menerimanya lalu melangkah ke depan tanpa membawa beban drama yang tidak perlu.
Gerilya Panggung Kreatif dan Ambisi Menembus Batas
Kematangan narasi dalam karya studio Souhaiter tentu tidak lepas dari gemblengan ekosistem independen yang melingkupi mereka. Kuintet ini tumbuh dan mengasah taji lewat interaksi intensif dengan berbagai kolektif serta gelaran skena lokal, seperti Rumble Effect Super Music, Ourfest Shoutout Production, Uthie Project, Nyarigigs, hingga Koentji Laci.
Kendati telah mencicipi riuh rendah berbagai panggung underground, rasa lapar Souhaiter untuk memperluas jangkauan radar musik mereka masih jauh dari kata tuntas. Kuintet ini masih mengincar ruang-ruang ekspresi yang lebih luas untuk menguji daya ledak performa live mereka.
“Sebagiannya kami sudah merasakan atmosfer stage-nya, namun kami rasa bahwa kami harus mencoba kesempatan tampil di Pelatar, The Beat Brawlers, Flower City Festival, dan Timeless Project Live,” pukas Yuzar, menegaskan arah gerilya panggung mereka selanjutnya.
Aseptisisme Emosional dalam Balutan Heavy Rock
Secara keseluruhan, “The Fleet Halcyon” memperlihatkan pendewasaan karakter Souhaiter dalam meracik musik heavy rock. Mereka berhasil membuktikan bahwa luka masa lalu, kehilangan, dan perpisahan bisa diolah menjadi bahan bakar kreatif yang sangat berdaya. Di tengah gelombang musik independen yang kian dinamis, langkah Souhaiter menawarkan sebuah perspektif yang segar: bahwa bersikap tangguh bukan berarti menolak sakit, melainkan berani menatap masa lalu, melambaikan tangan, dan terus berjalan menembus kabut masa depan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post