JAKARTA — Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Sektor padat karya ini tercatat menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja dan menyumbang hampir 1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan nilai ekspor tahunan mencapai USD 12 miliar (sekitar Rp190 triliun).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan capaian strategis tersebut usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta. Rapat tersebut secara khusus membahas langkah-langkah penguatan manufaktur padat karya serta dorongan investasi dan modernisasi di sektor TPT.
“Industri tekstil memberikan kontribusi mendekati 1 persen terhadap PDB, menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, dan menghasilkan ekspor kira-kira USD 12 miliar per tahun,” ujar Airlangga. Ia juga menambahkan bahwa sektor ini mencatatkan laju pertumbuhan yang cukup positif di kisaran 5,6 persen.
Peluang Ekspansi dan Utilitas Pabrik
Pemerintah menilai potensi pertumbuhan industri TPT domestic masih sangat terbuka lebar. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, tingkat utilitas kapasitas pabrik tekstil saat ini berada di angka 75 persen.
“Kita melihat utilitas pabrik tekstil masih sekitar 75 persen, sehingga masih terdapat ruang yang cukup luas untuk ekspansi,” kata Airlangga menegaskan.
Kondisi ini menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang tepat guna menaikkan utilitas mesin produksi sekaligus menarik investasi baru, khususnya dalam memperkuat struktur manufaktur dalam negeri.
Kesenjangan Struktural: Hulu Impor, Hilir Ekspor
Meski mengantongi angka ekspor yang fantastis, industri TPT Indonesia masih dihadapkan pada tantangan struktural yang cukup kontras antara sektor hulu (bahan baku) dan hilir (pakaian jadi atau garmen).
Mengacu pada neraca perdagangan tahun lalu, Indonesia tercatat masih menjadi net importer untuk produk tekstil hulu. Nilai impor bahan baku tekstil mencapai USD 8,4 miliar, jauh melampaui nilai ekspor hulu yang hanya sebesar USD 3,1 billion.
Sebaliknya, performa mengilap justru ditunjukkan oleh sektor hilir. Pada industri garmen, Indonesia mencatatkan status sebagai net exporter unggulan dengan nilai ekspor mencapai USD 8,7 miliar, sedangkan nilai impornya hanya berada di angka USD 690 juta.
“Terdapat perbedaan kondisi yang kontras. Di industri hulu kita masih menjadi net importer, tetapi di sektor garmen hilir kita adalah net exporter,” jelas Airlangga.
Strategi Modernisasi Rantai Pasok Nasional
Kesenjangan ini menggarisbawahi tantangan utama industri TPT nasional: meskipun sektor garmen berdaya saing tinggi di pasar global, rantai pasokan domestic masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, pemerintah telah mengidentifikasi titik-titik lemah dalam rantai nilai TPT, terutama pada proses produksi pemintalan benang (yarn), pembuatan kain (fabric), pencelupan (dyeing), pencetakan motif (printing), hingga penyempurnaan akhir (finishing).
Pemerintah berkomitmen untuk mendorong program modernisasi mesin serta membuka pintu investasi seluas-luasnya di sektor hulu dan pertengahan (midstream) guna memperkuat kemandirian rantai pasok tekstil nasional di masa mendatang.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post