Kecam Kesepakatan Amerika-Rusia, Volodymyr Zelensky Sebut Serangan Maut Moskow Adalah “Ucapan Terima Kasih”
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melayangkan kritik tajam terhadap kesepakatan pasokan diesel antara Amerika Serikat dan Rusia. Menurutnya, rentetan serangan bom Rusia yang menewaskan sedikitnya 16 warga sipil di Ukraina pada Sabtu pekan ini merupakan bentuk “ucapan terima kasih” Moskow kepada Washington atas pelonggaran sanksi ekonomi yang diberikan.
Kritik pedas tersebut mengemuka setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam kesepakatan itu, Moskow menyetujui penyaluran cadangan diesel dalam jumlah besar ke pasar global dengan imbalan pengurangan sanksi dari pihak Barat. Langkah ini diambil Washington guna menekan lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri yang melonjak pasca-operasi militer AS dan Israel di Iran sejak akhir Februari lalu.
Zelensky menilai keputusan Washington memberikan kelonggaran sanksi sebagai langkah yang keliru dan berbahaya. “Keputusan tersebut sangat tidak pantas bagi mitra kami dan menggambarkan kelemahan. Isyarat yang diterima Rusia justru memberi sinyal bahwa mereka bisa terus melanjutkan agresi,” tegas Zelensky.
Tragedi Bom Luncur di Zaporizhzhia dan Gelombang Serangan Drone
Hanya berselang sehari setelah pengumuman kesepakatan tersebut, pasukan militer Rusia melancarkan serangkaian serangan udara masif ke sejumlah wilayah Ukraina. Di kota Zaporizhzhia yang terletak di bagian tenggara, lima bom luncur (glide bomb) menghantam kawasan permukiman padat penduduk. Otoritas setempat mengonfirmasi sedikitnya 15 orang tewas dalam insiden ini, termasuk tiga anak-anak.
Proses evakuasi berlangsung mencekam saat tim penyelamat berpacu dengan waktu menyisir puing-puing bangunan yang hancur. Selain serangan di Zaporizhzhia, sebuah drone tempur Rusia juga menghantam wilayah Dnipropetrovsk dan merenggut nyawa seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun.
Sementara itu di ibu kota Kyiv, serangan udara Rusia menyasar infrastruktur energi yang memicu pemadaman listrik skala besar, serta menghantam sebuah fasilitas restoran. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa sasaran di Kyiv merupakan “pusat data” yang digunakan oleh militer Ukraina.
Uni Eropa Pertahankan Sanksi, Hubungan Washington-Kyiv Memanas
Langkah Washington memicu reaksi ketat dari Uni Eropa. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan bahwa Eropa tidak akan mengikuti langkah Amerika Serikat untuk meringankan sanksi terhadap sektor energi Rusia. Menurut Kallas, mencabut sanksi diesel hanya akan memberi napas baru dan mendanai mesin perang Kremlin di Ukraina.
Pemerintah Jerman turut menyuarakan nada serupa dan menyatakan bakal terus mendesak pemberlakuan paket sanksi baru terhadap Moskow di tingkat Uni Eropa, terlepas dari kesepakatan yang dibuat oleh Trump.
Di sisi lain, ketegangan diplomatik antara Washington dan Kyiv justru kian memuncak. Trump meluapkan kekesalannya terhadap Zelensky yang menginstruksikan serangan drone Ukraina ke fasilitas kilang minyak di dalam wilayah Rusia—tindakan yang dinilai Washington memicu kenaikan harga BBM global jelang pemilu AS.
Dalam pernyatannya di Gedung Putih, Trump bahkan menyerukan agar Ukraina melakukan pergantian kepemimpinan nasional. Menurut Trump, sudah saatnya rakyat Ukraina memiliki presiden baru yang bersedia diajak bernegosiasi untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama lebih dari empat setengah tahun tersebut.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post