Pernyataan kontroversial Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali, Gusti Arya Wedakarna, memicu perdebatan sengit mengenai etika dan perlakuan terhadap wisatawan di Pulau Dewata. Pernyataan sang senator yang menyebut turis mancanegara (wisman) jauh lebih dermawan dibandingkan pelancong domestik dalam memberikan uang tip menuai kecaman keras dari pegiat sosial sekaligus desainer kenamaan Bali, Ni Luh Djelantik.
Wedakarna sebelumnya mengimbau wisatawan nusantara untuk membiasakan diri memberi uang tip saat melancong ke berbagai destinasi wisata. Menurutnya, turis asing memiliki budaya memberi apresiasi materiil yang lebih baik terhadap pekerja sektor jasa, sehingga masyarakat lokal dinilai lebih antusias melayani tamu mancanegara ketimbang turis lokal yang ia sebut kerap menawar harga secara berlebihan.
Pukul Rata Perilaku Belanja Wisatawan Picu Polemik
Menanggapi narasi tersebut, Ni Luh Djelantik mengkritik keras generalisasi yang mendiskreditkan pelancong domestik. Menurutnya, daya beli maupun kebiasaan berbelanja seseorang sangat bersifat individual, dan besaran tip maupun kewarganegaraan sama sekali tidak boleh menjadi tolok ukur profesionalitas pelayanan pariwisata.
Djelantik membeberkan realitas lapangan di mana tak sedikit turis asing justru menawar dagangan pelaku usaha mikro secara agresif. Ia mencontohkan insiden seorang pedagang kerupuk lansia di Bedugul, di mana dagangannya yang seharga Rp10.000 ditawar paksa hingga Rp2.000 oleh turis asing setelah makanannya dikonsumsi sebagian.
Ia juga menyoroti perilaku sebagian wisatawan asing yang kerap menghabiskan waktu berjam-jam di kafe hanya dengan memesan secangkir kopi, atau berdiam di beach club dari siang hingga larut malam bermodalkan sebotol bir. Pemandangan tersebut ia bandingkan dengan belanja wisatawan domestik di tempat hiburan yang tak jarang menggelontorkan jutaan rupiah untuk makanan, minuman, dan tip bagi para staf.
Budaya Tip dan Penopang Ekonomi Pariwisata Bali
Praktik pemberian tip di Indonesia pada dasarnya bersifat sukarela (discretionary), meski sangat diapresiasi oleh pekerja sektor perhotelan, pemandu wisata, pengemudi, hingga terapis spa. Di sisi lain, sebagian besar restoran dan hotel berstandar telah menyertakan service charge langsung ke dalam tagihan konsumen sebagai komponen remunerasi jasa.
Perdebatan ini mencuat di tengah sorotan publik atas sejumlah isu tarif fasilitas wisata di Bali, termasuk insiden penarikan tarif toilet Rp10.000 yang sempat viral melibatkan figur publik Billy Syahputra. Polemik ini membuka diskursus lebih luas terkait transparansi biaya dan standarisasi layanan publik di kawasan wisata internasional tersebut.
Secara agregat, data statistik pariwisata Bali menunjukkan kontribusi vital kedua segmen wisatawan tersebut:
- Kunjungan Wisatawan Mancanegara: Mencatatkan 5,4 juta kedatangan pada periode Januari–September, dengan Australia sebagai pasar utama. Rata-rata pengeluaran harian wisman mencapai sekitar Rp2,11 juta ($127), dengan total belanja rata-rata mencapai $1.522 (sekitar Rp23,8 juta) per kunjungan.
- Pergerakan Wisatawan Domestik: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, tercatat 18,16 juta perjalanan domestik sepanjang Januari–Agustus, membuktikan peran masif pasar dalam negeri sebagai pilar perputaran uang di tingkat akar rumput.
Peringatan Menjaga Martabat dan Kesetaraan Layanan
Djelantik menegaskan bahwa tip sepatutnya menjadi bentuk apresiasi tambahan atas pelayanan prima, bukan tumpuan utama penghasilan pekerja yang semestinya dijamin oleh pihak pemberi kerja melalui upah layak dan biaya servis resmi. Sikap ramah dan profesional, menurutnya, adalah hak mutlak setiap pengunjung tanpa memandang paspor.
“Baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing, perlakukan mereka dengan rasa hormat yang sama,” tegas Djelantik. Ia juga mendesak pihak berwenang bertindak tegas terhadap pelanggaran norma budaya, perendahan martabat warga lokal, serta penyalahgunaan izin tinggal dan izin kerja oleh warga asing.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa retorika yang mengecilkan arti wisatawan domestik berisiko menimbulkan sentimen negatif dan keengganan berlibur ke Bali. Terlebih, pariwisata domestik terbukti menjadi penyelamat utama rantai pasok ekonomi Pulau Dewata ketika perbatasan internasional lumpuh total selama pandemi COVID-19. Seluruh pemangku kepentingan industri pariwisata kini dituntut untuk menjaga keseimbangan antara perolehan devisa, perlindungan upah pekerja, dan penghormatan terhadap martabat budaya tanpa menciptakan sekat diskriminasi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post