Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan tren positif. Pada penutupan perdagangan Selasa, mata uang Garuda menguat 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.899 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.917 per dolar AS.
Sentimen Global: Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Mengecil
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai penguatan rupiah didorong oleh melemahnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang berada di bawah ekspektasi menjadi katalis utama.
Salah satu indikator kunci, Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, tercatat berada di level 3,4 persen year on year (yoy) pada Agustus 2026, lebih rendah dari konsensus pasar yang mematok angka 3,7 persen. Selain itu, data nonfarm payrolls (NFP) menunjukkan penambahan lapangan kerja hanya sebesar 29 ribu pada September, jauh di bawah proyeksi para ekonom. Tingkat pengangguran AS juga mengalami kenaikan menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 4,1 persen.
Kondisi ini membuat probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober mendatang kini melampaui 80 persen. Pasar saat ini tengah menanti rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) serta data klaim tunjangan pengangguran AS untuk mendapatkan gambaran kebijakan moneter ke depan.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Di sisi domestik, sentimen positif datang dari laporan Bank Dunia yang merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,2 persen, atau naik 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.
Ibrahim Assuabi menjelaskan bahwa lonjakan proyeksi ini didorong oleh kuatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik. Faktor pendorong lainnya mencakup pergeseran siklus fiskal akibat momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta akselerasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tantangan Ekonomi Domestik
Meski pertumbuhan diproyeksikan menguat, Bank Dunia turut memberikan catatan kritis terkait pelemahan aktivitas ekonomi domestik pasca-kuartal awal. Indikator yang disorot meliputi penurunan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur ke level 49,3 pada Agustus serta melesunya tingkat kepercayaan konsumen di angka 116,8 pada Juli.
Selain itu, defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan melebar menjadi 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2026. Sementara itu, tingkat inflasi diprediksi akan tetap terjaga di sekitar batas atas target Bank Indonesia dan pemerintah, yakni di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama juga tercatat menguat ke level Rp17.910 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.917 per dolar AS.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post