Mata uang Rupiah mencatatkan penguatan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, didorong oleh kombinasi sentimen positif diplomasi global dan kebijakan moneter domestik. De-eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah—khususnya terkait jalur perdagangan vital Selat Hormuz—serta keputusan cermat Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan, menjadi penopang utama keperkasaan mata uang Garuda.
Pada penutupan perdagangan hari Rabu, kurs Rupiah menguat 66 poin atau sekitar 0,37 persen ke level Rp17.818 per dolar AS. Raihan ini sekaligus memulihkan posisi Rupiah yang sempat terkoreksi 0,21 persen ke level Rp17.884 pada hari sebelumnya. Di saat yang sama, indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,2 persen ke level 100,8.
Sinyal Damai AS-Iran dan Relaksasi Geopolitik
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa perkembangan positif dalam hubungan diplomatik antara AS dan Iran menjadi faktor eksternal utama yang memberikan angin segar bagi pasar keuangan. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai pertemuan intensif selama tiga jam antara pejabat AS dan perwakilan Iran di New York melahirkan optimisme baru di kalangan investor.
Pertemuan langsung pertama sejak Juni tersebut membuka peluang de-eskalasi konflik di kawasan strategis Selat Hormuz. Pihak Iran melayangkan sinyal kesiapan untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut dengan syarat Washington mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran, kendati kesepakatan final masih dalam tahap pembahasan.
Sentimen positif pasar semakin diperkuat oleh langkah Arab Saudi yang kembali mengoperasikan jalur pipa minyak East-West. Operasional pipa ini memungkinkan pengiriman minyak mentah mencapai Pelabuhan Yanbu di Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz, pasca-penutupan sementara akibat serangan pesawat nirawak beberapa waktu lalu.
Sikap Hawkish The Fed dan Ketidakpastian Pasar
Meski isu geopolitik melunak, pelaku pasar global dinilai tetap bersikap hati-hati dalam mengantisipasi arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Sinyal ketat terkait inflasi masih terus digaungkan oleh para pejabat bank sentral tersebut.
Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Thomas Barkin, menekankan bahwa tekanan inflasi membutuhkan waktu lebih lama untuk mereda, sehingga kenaikan suku bunga lanjutan berpeluang tetap diperlukan demi mencapai target inflasi 2 persen. Senada dengan hal tersebut, Presiden Federal Reserve Bank of Boston, Susan Collins, menyatakan bahwa ketatnya tekanan harga menuntut respons kebijakan yang lebih restriktif untuk menjamin stabilitas harga jangka panjang.
Kebijakan BI-Rate Pertahankan Stabilitas Pasar Domestik
Dari dalam negeri, langkah konsisten Bank Indonesia menjadi benteng tangguh bagi pergerakan Rupiah. Berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 22-23 September, otoritas moneter memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen.
Selain BI-Rate, suku bunga Deposit Facility tetap dipertahankan pada posisi 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility pada tingkat 6,50 persen. Keputusan ini ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, mengendalikan laju inflasi, sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Guna memperkuat daya tahan ekonomi, BI juga terus mengoptimalkan strategi untuk menarik aliran masuk modal asing (foreign capital inflows) serta memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing domestik.
Melihat dinamika yang ada, perdagangan Rupiah diperkirakan masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas pada rentang Rp17.810 hingga Rp17.860 per dolar AS.
Sementara itu, pergerakan mata uang asing lainnya terhadap Rupiah mencatatkan penutupan sebagai berikut: Dolar Singapura berada di tingkat Rp13.949, Yen Jepang di posisi Rp112,88, Dolar Australia mencatatkan Rp12.629, dan Euro ditutup pada level Rp20.346.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post