MALANG TODAY – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali dibuka melemah pada perdagangan Selasa pagi. Rupiah merosot 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.997 per dolar AS, setelah sebelumnya ditutup di posisi Rp17.978 per dolar AS. Tekanan pada mata uang Garuda ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), serta lonjakan imbal hasil obligasi AS.
Ekspektasi Pengetatan Kebijakan The Fed
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan mata uang Paman Sam yang menekan rupiah merupakan dampak langsung dari sikap para investor yang mengantisipasi kebijakan moneter ketat dari The Fed. Data CME FedWatch menunjukkan peluang sekitar 70 persen bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan akhir Oktober mendatang.
Langkah agresif tersebut berpotensi melanjutkan kebijakan ketat setelah bank sentral AS sebelumnya telah menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terus melambung turut mendorong investor mengalihkan dana mereka ke aset berdenominasi dolar AS yang dinilai lebih aman dan menguntungkan saat ini.
Pengaruh Ketegangan Geopolitik Global
Selain faktor ekonomi domestik AS, memanasnya tensi geopolitik turut menjadi pemicu meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan tersebut. Lukman menilai sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal kompromi dari Iran semakin memicu ketidakpastian global.
Sikap keras Washington yang enggan mencabut sanksi minyak dan justru mempertimbangkan tindakan militer baru usai pemilihan umum sela di AS, telah mengganggu stabilitas pasar energi dan keamanan jalur pelayaran strategis global. Eskalasi konflik ini secara langsung memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven di tengah kekhawatiran para pelaku pasar.
Pasar Antisipasi Data Tenaga Kerja AS
Di samping sentimen geopolitik, para pelaku pasar keuangan saat ini memilih bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting. Salah satu indikator yang dinantikan oleh para pedagang mata uang adalah data lowongan pekerjaan AS atau Job Openings and Labor Turnover Survey (Jolts).
Data Jolts tersebut diperkirakan akan mencatatkan angka 7,24 juta lowongan pekerjaan, sedikit menurun dari capaian bulan sebelumnya sebesar 7,27 juta. Hasil rilis data tenaga kerja ini diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS dan rupiah dalam jangka pendek.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post