WELLINGTON — Maraknya kasus pemerasan seksual berbasis digital atau sextortion di Selandia Baru kian memprihatinkan. Hasil penelitian terbaru dari organisasi keamanan daring Netsafe mengungkapkan bahwa sekitar delapan persen warga Selandia Baru mengaku pernah menjadi korban langsung pemerasan modal gambar intim tersebut. Sementara itu, 13 persen warga lainnya menyatakan mengenal seseorang yang pernah berada di posisi korban.
Dampak dari kejahatan siber ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Penelitian yang sama mencatat bahwa 35 persen korban mengalami gangguan mental dengan tingkat keparahan sedang hingga berat akibat tekanan yang dialami.
Dampak Psikologis dan Modus Kejahatan
CEO Netsafe, Brent Carey, mengungkapkan bahwa tim di lapangan semakin sering menyaksikan langsung dampak kemanusiaan yang destruktif akibat pelecehan berbasis teknologi ini. Rasa takut, malu yang mendalam, hingga kecemasan berlebih menjadi kondisi umum yang dialami oleh para korban.
“Banyak orang mendatangi kami dalam kondisi ketakutan luar biasa karena gambar intim mereka diancam akan disebarkan ke keluarga, teman, lingkungan sekolah, hingga tempat kerja. Sebagian korban diperas secara finansial, sementara yang lain mengalami penguntitan atau penyebaran konten intim tanpa persetujuan,” ujar Carey.
Analisis kasus historis milik Netsafe turut menunjukkan bahwa kasus sekstorsi berpotensi kuat memicu tekanan emosional berat, depresi mendalam, hingga munculnya dorongan untuk mengakhiri hidup pada diri korban.
Layanan Konseling Gratis untuk Korban
Merespons situasi darurat kesehatan mental akibat kejahatan siber ini, Netsafe berkolaborasi dengan platform kesejahteraan digital Ignite Aotearoa meluncurkan program percontohan bertajuk Digital Harm Support Pathway. Melalui program ini, para korban yang melaporkan insiden kejahatan siber serius berhak mendapatkan akses hingga tiga sesi konseling dan dukungan psikologis secara gratis.
Layanan yang didanai penuh ini akan terhubung langsung dengan jaringan konselor profesional Ignite yang tersebar di seluruh wilayah Selandia Baru. Langkah ini diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama pada kesehatan mental korban yang sedang tertekan.
Ribuan Laporan Masuk Setiap Bulan
Tingginya angka kejahatan daring di Selandia Baru terpotret dari catatan resmi Netsafe. Dalam kurun waktu dua tahun hingga Maret 2026, organisasi tersebut telah menerima sebanyak 53.691 laporan terkait aksi kejahatan siber.
Jika dikalkulasikan, Netsafe memproses lebih dari 2.000 laporan kejahatan daring setiap bulannya. Angka ini menegaskan perlunya penanganan terpadu, tidak hanya dari sisi hukum dan teknis keamanan siber, tetapi juga pemulihan trauma bagi para korban.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post