Dua Musisi Kebanggaan Malang Raya, Natania Karin dan Sal Priadi, Berkolaborasi dalam Album “Siluet Kita Berjalan dan Menjauh”
Solois muda berbakat asal Malang Raya, Natania Karin, resmi meluncurkan karya musik terbarunya berupa album penuh kedua bertajuk Siluet Kita Berjalan dan Menjauh. Diluncurkan secara global pada 9 Oktober 2026, album ini menjadi penanda pendewasaan bermusik Karin setelah jeda lima tahun sejak album pertamanya, Sirkus Kecil, yang dirilis pada 2021 lalu.
Album yang memuat 11 trek ini hadir membawa narasi emosional yang sangat personal namun terasa akrab bagi penikmat musik tanah air. Mengusung eksperimen aransemen yang memadukan genre pop, folk, dan R&B, karya ini diperkaya petikan gitar yang manis, balutan aransemen strings, hingga dentingan piano intuitif yang menyatu harmonis dengan karakter vokal lugas milik Karin.
Gandeng Sal Priadi dalam Trek Kolaborasi Spesial “Api dan Salju”
Salah satu sorotan utama dalam album ini adalah kehadiran lagu bertajuk “Api dan Salju”. Trek keenam ini menjadi ruang kolaborasi istimewa antara Karin dan musisi kenamaan asal Malang, Sal Priadi, yang bertindak sebagai rekan duet sekaligus co-writer.
Kolaborasi ini terasa sangat natural mengingat chemistry profesional keduanya yang telah terbangun kokoh selama lebih dari tujuh tahun. Karin, yang selama ini dikenal publik sebagai penyanyi latar setia di panggung-panggung konser Sal Priadi, kini bertukar peran sebagai sosok utama. Lewat “Api dan Salju”, keduanya menggambarkan analogi pasangan yang menari sekaligus bernegosiasi di tengah jurang perbedaan sudut pandang.
Demi mematangkan lanskap musik di album ini, Natania Karin juga mengandalkan deretan produser papan atas industri musik tanah air. Nama-nama seperti Lafa Pratomo, Gihon Lohanda, Dissa Kamajaya (Jacques), Bayu Rusady, Tjdika (Littlefingers), Klio Mathew, Alexander Kosasih, Feliks Fernando, hingga Evan Gunardi turut memperkuat struktur aransemen tiap lagu.
Refleksi Lima Tahun Perjalanan dan Penerimaan Masa Lalu
Secara tematik, Siluet Kita Berjalan dan Menjauh merangkum rentetan pengamatan dan pengalaman emosional Karin selama setengah dekade terakhir. Tajuk album ini sendiri disadur dari lirik single pembuka bertajuk “Siluet” yang telah lebih dulu mengudara pada November 2025, disusul lagu “Lelaki Sok Kuat” dan “Bermain SMA”.
Lagu-lagu di dalamnya membedah dinamika hubungan manusia secara komprehensif. Mulai dari perjuangan perempuan independen yang berhadapan dengan pasangan yang belum matang secara emosional, dinamika persahabatan, pesan terbuka bagi figur ayah, hingga kisah keberanian menemukan cinta kembali. Melalui album ini, Karin mengajak pendengarnya untuk menyikapi kenangan masa lalu bukan sebagai beban atau rasa sakit hati belaka, melainkan sebagai proses pendewasaan yang patut dihargai.
Rekam Jejak Gemilang Musisi Muda Berbakat
Kiprah Natania Karin di belantika musik Indonesia bermula secara tidak sengaja pada 2018 lalu lewat lagu “Bunga Matahari”—sebuah karya tugas kuliah yang diunggah temannya ke platform digital. Sejak saat itu, kariernya terus melejit lewat perilisan EP Rumah Itu Dibangun, Bukan Dicari serta pengisian berbagai jalur suara (soundtrack) film layar lebar.
Puncak pencapaiannya sempat terukir lewat lagu kolaborasi “Perayaan Mati Rasa” bersama Umay Shahab untuk film Ketika Berhenti Di Sini, yang berhasil menembus lebih dari 100 juta pemutaran digital. Di luar jalur solo, Karin juga aktif sebagai pengajar vokal, vocal director, serta pernah membidani lahirnya dua karya hit milik Nadin Amizah, yakni “Seperti Tulang” dan “—star.”
Kini, album Siluet Kita Berjalan dan Menjauh sudah bisa dinikmati publik luas di seluruh platform pemutar musik digital. Sebuah karya yang tidak hanya mengukuhkan eksistensi Natania Karin di skena musik nasional, tetapi juga membanggakan ekosistem kreatif Malang Raya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post