Melawan Doomscrolling dengan Edukasi: Menjinakkan Candu Layar Lewat Format TikTok
Selama bertahun-tahun, para sosiolog dan pakar kesehatan mental meratapi fenomena merosotnya rentang perhatian (attention span) generasi muda. Ibu jari yang terus menyapu layar tanpa arah—atau yang populer dengan istilah doomscrolling—kerap dituding sebagai biang keladi di balik keengganan mahasiswa membaca buku teks atau fokus belajar. Namun, bagaimana jika solusinya bukan memaksa mereka berhenti menggulir layar, melainkan mengubah apa yang mereka gulir?
Premis provokatif inilah yang melandasi lahirnya ScrollEd, sebuah startup teknologi pendidikan (EdTech) asal Palo Alto, Amerika Serikat. Alih-alih melawan arus adiksi media sosial, ScrollEd memilih untuk menungganginya. Mereka menawarkan tesis baru yang berani: jika mahasiswa enggan membuka buku tebal, maka buku tebal tersebut yang harus bertransformasi menjadi konten vertikal yang adiktif.
Mengubah PDF Kering Menjadi Konten Interaktif
Secara teknis, ScrollEd mengembangkan aplikasi inovatif yang mampu mengonversi dokumen teks konvensional—mulai dari berkas PDF yang membosankan hingga buku teks akademis—menjadi umpan (feed) dinamis yang menyerupai format Instagram Reels atau TikTok. Sentuhan teknologi kecerdasan buatan (AI) di balik platform ini secara otomatis mengubah materi teks menjadi video pendek, rekaman audio, ringkasan visual, hingga kuis interaktif.
Navigasi yang ditawarkan pun sangat familier bagi Gen Z. Sapuan jari ke atas (swipe up) akan membawa pengguna ke topik baru. Sementara itu, sapuan ke samping (swipe sideways) memungkinkan pengguna untuk menggali topik yang sama secara lebih mendalam, yang diakhiri dengan evaluasi interaktif atau kuis di ujung pembahasan.
Utsav Gupta, salah satu pendiri ScrollEd, menjelaskan bahwa generasi muda saat ini, khususnya mereka yang berusia di bawah 18 tahun, telah mengadopsi format video pendek vertikal sebagai bahasa utama mereka dalam mengonsumsi informasi. Hal ini menjadi tantangan besar bagi konten edukasi tradisional yang membutuhkan kedalaman pemahaman. ScrollEd hadir untuk menjembatani jurang tersebut dengan menemui mereka di platform yang biasa mereka gunakan, namun dengan kurasi konten yang bertanggung jawab tanpa mengeksploitasi metrik keterikatan (engagement) secara berlebihan.
Berawal dari Kegelisahan Akademisi Stanford dan UPenn
Inovasi ini lahir dari kegelisahan personal. Utsav Gupta, yang saat ini mendalami studi AI dan Tujuan Kemanusiaan di Stanford University, merintis ScrollEd secara mandiri (bootstrapping) bersama istrinya, Rebecca Neff, mahasiswa ilmu komputer di University of Pennsylvania. Keduanya kerap merasa hampa dan tidak produktif setelah terjebak dalam aktivitas doomscrolling sebelum tidur.
Dari sanalah ide untuk menciptakan alternatif media sosial yang lebih sehat muncul. ScrollEd tidak hanya menyasar pengguna individu yang menginginkan asupan konten lebih berkualitas saat menatap layar, tetapi juga membidik institusi pendidikan formal serta program pelatihan korporat (corporate training).
Model Bisnis Freemium dan Ambisi Jaringan Sosial Sehat
Dalam melakukan penetrasi pasar, ScrollEd menerapkan model bisnis freemium. Skema ini menggabungkan akses gratis untuk pengguna umum dengan opsi langganan berbayar bernama ScrollEd Pro, serta lisensi tahunan untuk institusi pendidikan.
Melalui lisensi institusional, sekolah atau universitas dapat mendistribusikan materi ajar mereka secara interaktif. Sebagai timbal balik, pihak institusi akan mendapatkan laporan analitik mendalam mengenai tingkat keterlibatan siswa, progres pembelajaran, serta data akademis lainnya.
Ke depan, fokus jangka pendek ScrollEd adalah memperkaya perpustakaan materi pembelajaran, memperketat proses verifikasi sumber data (source-checking) guna menghindari halusinasi AI, serta menjalankan proyek percontohan (pilot project) dengan beberapa lembaga pendidikan. Startup ini juga tengah merancang infrastruktur berbasis AI yang nantinya mampu menilai kemampuan personal tiap pelajar dan menyesuaikan materi pembelajaran secara adaptif (personalized learning). Ambisi besarnya sangat jelas: membangun sebuah jejaring sosial baru yang tidak hanya memikat, tetapi juga mencerdaskan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post