MALANG TODAY – Domination demografi muda di pasar modal Indonesia terus menunjukkan tren positif, namun fenomena berinvestasi tanpa kalkulasi matang atau sekadar terdorong rasa takut ketinggalan tren (fear of missing out/FOMO) masih menjadi tantangan mendasar. Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, menekankan pentingnya literasi finansial mendalam agar generasi muda tidak terjebak dalam euforia investasi yang berisiko merugikan.
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Januari 2026, porsi investor pasar modal dari kelompok usia di bawah 30 tahun telah mencapai 54,35%. Sementara itu, kelompok usia 31 hingga 40 tahun menyumbang 24,8% dari total investor. Angka ini mengonfirmasi bahwa lebih dari tiga perempat basis investor domestic kini dikuasai oleh generasi muda.
“Anak-anak muda sekarang sudah mulai tertarik pada investasi, ini hal yang sangat positif. Namun, kadang mereka belum bisa membedakan mana investasi yang benar-benar dipahami dan mana yang hanya ikut-ikutan karena FOMO. Kuncinya adalah belajar lebih intens dan detail sebelum menempatkan dana,” ujar Raffi Ahmad dalam pemaparannya di forum ekonomi nasional di Jakarta.
Prinsip Manajemen Risiko dan Pengelolaan Aset
Raffi menggarisbawahi bahwa efektivitas investasi sangat ditentukan oleh kejelasan tujuan, pemahaman instrumen, serta mitigasi risiko. Pelaku investasi muda diimbau untuk membedakan secara tegas antara karakteristik portofolio jangka pendek dan jangka panjang, serta tidak tergiur oleh klaim imbal hasil instan.
Empat elemen utama yang wajib dianalisis sebelum mengambil keputusan investasi mencakup legalitas produk, profil risiko, jangka waktu penempatan, dan mekanisme kerja instrumen terkait. Rasionalitas dalam mengukur kemampuan finansial pribadi menjadi benteng utama dari potensi kerugian mendalam.
Selain pemahaman instrumen, pergeseran pola pikir dari sekadar mengejar arus kas (income) menuju pembentukan aset berdampak panjang menjadi krusial. “Penghasilan seperti gaji, dividen, atau hasil usaha adalah arus masuk, sedangkan kekayaan diukur dari akumulasi aset seperti properti, kepemilikan bisnis, maupun instrumen finansial. Kenaikan pendapatan jangan sampai langsung dihabiskan untuk mendongkrak gaya hidup,” tegasnya.
Pengalokasian pendapatan secara proporsional juga perlu diterapkan secara disiplin, membagi pos keuangan ke dalam kebutuhan operasional harian, proteksi diri, pengembangan kapasitas pribadi, hingga instrumen investasi jangka panjang.
Integritas dan Kredibilitas Pemimpin Muda
Menghadapi dinamika bisnis dan ekonomi yang bergerak cepat, generasi muda juga dituntut untuk membangun fondasi kewirausahaan yang kokoh. Menurut Raffi, kesuksesan finansial maupun bisnis merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan fondasi keberlanjutan, kredibilitas, dan jejaring strategis.
“Dalam dunia bisnis dan profesional, kredibilitas dan kepercayaan adalah modal nomor satu di atas sekadar kepintaran teknis. Integritas, karakter, serta reputasi yang terjaga akan membuka relasi bisnis yang sehat dan berkesinambungan,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post