TANGERANG — Pendekatan storytelling kini menjadi strategi krusial dalam mempercepat literasi keuangan dan investasi di Indonesia, khususnya untuk menjangkau generasi muda seperti Gen Z. Di tengah maraknya arus informasi di ruang digital, tantangan terbesar industri jasa keuangan tidak lagi sebatas memproduksi konten yang menarik perhatian, melainkan menyederhanakan materi investasi yang rumit dan teknis agar mudah dipahami tanpa mengabaikan aspek akurasi dan risiko.
Metode naratif ini terbukti efektif menjembatani pemahaman publik dengan mengemas istilah keuangan yang terkesan formal menjadi cerita, ilustrasi, atau studi kasus yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penerapan teknik ini telah diadopsi secara luas, mulai dari program edukasi anak sejak dini hingga produksi konten kreatif seperti film dan media sosial.
Edukasi Usia Dini hingga Analogi di Layar Lebar
Langkah nyata penerapan teknik ini terlihat dari inisiatif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melalui program edukasi bertajuk InsureTell: Storytelling. Melalui format interaktif seperti mendengarkan cerita, bernyanyi, dan permainan, pesan mengenai perencanaan keuangan, kepedulian, serta perlindungan dapat diserap secara intuitif oleh anak-anak tanpa beban istilah teknis.
Ketua Bidang Pengembangan dan Pelatihan SDM AAJI, Freddy Thamrin, menegaskan pentingnya penyampaian pesan finansial melalui media yang dapat diterima secara alami oleh audiens target.
“Mengusung konsep storytelling yang ringan akan memungkinkan anak-anak lebih mudah memahami konsep dasar kehidupan dalam keuangan secara intuitif, tanpa harus berhadapan langsung dengan istilah-istilah teknis yang kompleks,” ujar Freddy.
Di ranah pop kultur, efektivitas metode naratif juga terbukti sukses besar dalam menyampaikan pesan investasi kepada generasi muda. Salah satu contohnya terlihat dalam film drama komedi Gampang Cuan. Karakter utama dalam film tersebut menggambarkan instrumen saham secara sederhana melalui analogi peternakan ayam, di mana modal diibaratkan sebagai ternak yang dipercayakan kepada pengelola usaha untuk menghasilkan bagi hasil.
Melalui analogi populer tersebut, penonton diajak memahami konsep fundamental saham sekaligus diajarkan untuk bersikap kritis, seperti memeriksa rekam jejak, kesehatan keuangan, dan kinerja perusahaan sebelum memutuskan untuk menanamkan modal.
Tuntutan Akurasi dan Regulasi OJK di Ruang Digital
Kendati pendekatan naratif dapat meningkatkan daya tarik konten edukasi keuangan, pemangku kepentingan menekankan bahwa aspek transparansi dan akurasi data tetap menjadi syarat mutlak. Konten ekonomi dan investasi berdampak langsung pada keputusan finansial publik, sehingga harus didasari oleh data yang jujur, perhitungan risiko yang terukur, serta sumber yang tepercaya.
Langkah pengawasan ini semakin diperkuat dengan terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 6 Tahun 2026. Aturan tersebut secara khusus meregulasi penyampaian informasi di sektor jasa keuangan, mencakup kegiatan edukasi, pemasaran, hingga pemberian rekomendasi investasi.
OJK menegaskan bahwa regulasi ini dirancang guna memastikan seluruh informasi keuangan yang beredar di masyarakat—termasuk yang disebarkan oleh para pembuat konten di media sosial—memenuhi kaidah yang jelas, akurat, jujur, mudah diakses, serta tidak berpotensi menyesatkan masyarakat.
Bagi Gen Z yang mendasarkan sebagian besar keputusan finansialnya pada informasi digital, kehadiran aturan ini memberikan pelindungan ekstra. Storytelling kini diposisikan sebagai pintu masuk yang ramah untuk menarik minat publik, yang harus diimbangi dengan kemampuan riset mandiri, pemahaman mitigasi risiko, serta verifikasi informasi agar masyarakat terhindar dari keputusan investasi yang keliru.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post