MALANG – Upaya mitigasi bencana di kawasan wisata internasional Gunung Bromo terus dimatangkan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi resmi menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) untuk memutakhirkan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Bromo. Langkah ini diambil guna menghimpun masukan dari pemerintah daerah, masyarakat adat Tengger, serta pelaku wisata di wilayah Malang Raya dan sekitarnya demi menjamin keselamatan jiwa dan keberlangsungan pariwisata.
Evaluasi Peta KRB Sejak Tahun 2015
Penyelidik Bumi Ahli Utama PVMBG, Kristiyanto, menjelaskan bahwa FKP ini menjadi ruang krusial untuk mengevaluasi sekaligus memperbarui peta KRB Gunung Bromo yang terakhir kali disusun pada tahun 2015 silam. Menurutnya, dinamika aktivitas gunung api dan perkembangan kawasan wisata menuntut adanya penyesuaian panduan mitigasi yang lebih akurat.
“Tujuan dari FKP ini sebetulnya kami ingin mendengarkan masukan-masukan dari stakeholder, baik dari unsur pemerintahan, unsur masyarakat, dan yang lain-lain,” ujar Kristiyanto.
Dari hasil serap aspirasi tersebut, Badan Geologi menemukan fakta bahwa pemahaman masyarakat mengenai peta KRB ternyata belum merata. Meskipun warga lokal di sekitar lereng Gunung Bromo secara tradisional telah memahami potensi ancaman erupsi dan mampu hidup berdampingan dengan aktivitas vulkanik, sosialisasi secara formal dan struktural dinilai masih perlu diperluas.
Desakan Sosialisasi Masif untuk Pelaku Wisata
Selain menyasar masyarakat umum, forum tersebut juga merekomendasikan agar Badan Geologi menggencarkan sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) kepada para pelaku serta penggiat pariwisata di kawasan Bromo, termasuk penyedia jasa jip, pemandu wisata, dan perhotelan.
“Bimbingan teknis kepada para stakeholder juga perlu dilakukan oleh Badan Geologi supaya mitigasi bencana Gunung Bromo ini lebih efektif dan kita bisa menekan korban jiwa maupun kerugian harta benda,” tegas Kristiyanto. Pemahaman yang seragam mengenai rekomendasi teknis PVMBG diharapkan dapat mencegah kepanikan dan mempermudah mobilisasi wisatawan jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
Temuan Krusial: Titik Evakuasi Masuk Zona Merah
Salah satu poin paling krusial yang mengemuka dalam FKP kali ini adalah status lokasi evakuasi atau titik kumpul darurat saat ini. Terungkap bahwa sejumlah titik evakuasi yang selama ini disiapkan ternyata masih berada di dalam area yang masuk kategori rawan bencana.
“Ternyata desanya itu juga masih menjadi desa yang kategori rawan bencana. Jadi ini akan menjadi masukan kami untuk segera kami lakukan diskusi lanjutan,” ungkap Kristiyanto.
Menindaklanjuti temuan berisiko tinggi tersebut, PVMBG berkomitmen untuk segera menggelar koordinasi intensif bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat serta otoritas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kolaborasi lintas sektor ini ditargetkan dapat merumuskan dan memetakan kembali titik-titik evakuasi baru yang jauh lebih aman dan berada mutlak di luar batas peta KRB Gunung Bromo.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post