Di balik kilau panggung runway dan tren gaya hidup yang bergerak cepat, industri mode global mencatatkan rekor produksi bahan baku yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan tahunan Materials Market Report mengungkapkan bahwa produksi serat tekstil dunia melonjak hingga mencapai 139 juta ton—sebuah angka fantastis yang setara dengan 17 kilogram serat untuk setiap individu di planet ini. Angka ini mencerminkan lonjakan signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di angka 132 juta ton, sekaligus menggarisbawahi makin besarnya ketergantungan industri gaya hidup terhadap bahan sintetis.
Dominasi Serat Sintetis dan Tantangan Daur Ulang Realistis
Kategori serat sintetis terus mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung utama industri tekstil modern. Dengan kenaikan produksi sebesar 5,7%, serat buatan manusia ini mencatatkan volume 96,2 juta ton atau menyumbang sekitar 69% dari total output serat global. Di ranah ini, polyester tetap menjadi material paling populer dengan porsi mencapai 59% dari seluruh jenis serat, di mana produksinya melesat dari 77.7 juta ton menjadi 82,5 juta ton dalam jangka waktu satu tahun saja.
Namun, di balik narasi keberlanjutan atau sustainable fashion yang sering digelorakan, laporan tersebut membeberkan realita lain. Sekitar 88% dari total polyester yang diproduksi masih berupa material murni (virgin polyester) yang mencapai 73 juta ton. Sementara itu, porsi polyester daur ulang hanya mengalami kenaikan tipis menjadi 9,7 juta ton dan tetap bertahan di angka 12% dari total pasokan. Yang menarik, proses daur ulang ini belum sepenuhnya menerapkan sistem tertutup antar-tekstil (textile-to-textile recycling), melainkan 97% bahannya masih bersumber dari limbah botol plastik.
Serat Alami dan Sentuhan Material Organik
Kategori serat alami menempati posisi kedua dengan total produksi 32,7 juta ton, naik 4.5% dan menguasai 23% pangsa pasar tekstil dunia. Katun menjadi primadona di segmen ini dengan volume produksi mencapai 25,7 juta ton. Seiring dengan kian tingginya kesadaran konsumen akan etika berbusana, porsi katun yang mengantongi sertifikasi sertifikasi tanggung jawab sosial (CSR) meningkat menjadi 37% atau setara 9,4 juta ton. Meski demikian, proporsi katun daur ulang secara global masih ter terhenti di angka 1%.
Di sisi lain, bahan baku berestetika klasik dan berefisiensi tinggi seperti flax (serat linen) diproduksi sekitar 300.000 ton atau menyumbang 0,2% pasokan global. Serat hemp (ganja industri) yang makin diminati oleh brand mode ramah lingkungan mencatatkan angka produksi sebesar 400.000 ton.
Pesona Selulosa dan Dinamika Material Hewani
Grup material terbesar ketiga diisi oleh serat selulosa buatan (bahan alami yang diproses secara kimiawi) dengan total produksi 9,1 juta ton, tumbuh 8,3% dan mengambil porsi 7% dari pasar global. Viscose, serat yang banyak diandalkan untuk menciptakan siluet busana yang jatuh melambai anggun, mencapai volume 7,2 juta ton. Sekitar dua pertiga dari volume serat kayu ini telah mengantongi sertifikasi FSC atau PEFC untuk menjamin praktik pencegahan deforestasi. Namun, penggunaan selulosa hasil daur ulang masih terbilang amat langka, yakni hanya 1,5% atau 130.000 ton.
Sementara itu, material hewani yang kerap identik dengan lini haute couture dan busana musim dingin mengalami penurunan total produksi sebesar 15,4% menjadi 1,1 juta ton (menyumbang 1% dari pasar serat). Produksi wol domba murni bertahan di kisaran satu juta ton, di mana 8% di antaranya merupakan wol daur ulang. Menariknya, wol yang tersertifikasi Responsible Wool Standard justru melesat 12,4% hingga mencapai 79.135 ton.
Untuk material premium lainnya, produksi cashmere mentah tercatat berada di angka 28.010 ton, sedangkan produksi sutra alami berada di kisaran 90.000 ton, mencerminkan eksklusivitas kedua material mewah ini di panggung mode internasional.
Mata Rantai Kulit, Bulu Unggas, dan Karet Industri
Laporan ini juga menyoroti material pelengkap fashion dan gaya hidup lainnya. Berdasarkan data badan pangan dunia (FAO), produksi kulit mentah global mengalami kenaikan tipis hingga mencapai 14 juta ton yang bersumber dari populasi ternak sekitar 1,6 miliar ekor.
Di kategori material penghangat seperti bulu unggas (down and feathers), produksi dunia naik 5,8% menjadi 697.570 ton, di mana tingkat daur ulangnya masih terbilang sangat rendah di angka 1%. Sementara itu, produksi karet yang kerap dimanfaatkan untuk industri alas kaki dan aksesori bertahan stabil di angka 15 juta ton. Dari total lahan perkebunan karet seluas 13 juta hektar, baru sekitar 5% yang terhubung dengan program sertifikasi kelestarian hutan, mengindikasikan tantangan besar yang masih harus dihadapi industri mode modern dalam mencapai ekosistem yang benar-benar hijau.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post