Mengurai Sisi Lain Raja Jayanegara lewat Artefak dan Catatan Asing
Kisah kepemimpinan Raja Jayanegara di Kerajaan Majapahit selama ini kerap diidentikkan dengan gejolak pemberontakan internal dan konflik politik yang berdarah. Namun, penelusuran sejarah yang lebih mendalam menunjukkan bahwa era pemerintahan raja kedua Majapahit tersebut menyimpan dinamika diplomasi internasional serta tata kelola pemerintahan yang sangat maju pada zamannya.
Sejarawan asal Malang, Suwardono, mengungkapkan bahwa untuk memahami lanskap sejarah Majapahit secara utuh, masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada naskah kuno seperti Serat Pararaton. Keberadaan prasasti serta catatan dari pengelana asing menjadi kuncinya untuk memverifikasi sekaligus melengkapi fakta sejarah yang belum terkuak secara rinci.
Jejak Loyalitas dan Penghargaan dalam Prasasti Tuhanaru
Salah satu bukti otentik yang mengurai babak penting pemerintahan Jayanegara adalah Prasasti Tuhanaru. Prasasti ini mencatat peristiwa krusial pemberian anugerah tanah sima kepada seorang tokoh bernama Makarawajah. Penghargaan istimewa tersebut diberikan langsung oleh raja atas jasa besar Makarawajah dalam menyelamatkan dan mengembalikan Jayanegara ke singgasana saat terjadi Pemberontakan Kuti.
“Selain Prasasti Tuhanaru, terdapat pula Prasasti Balambangan yang merekam dukungan masyarakat di wilayah Malambangan terhadap kembalinya Jayanegara ke takhta kekuasaan,” ujar Suwardono.
Ia menekankan bahwa prasasti memiliki kedudukan yang sangat vital dalam metodologi penelitian sejarah. Sebab, prasasti dibuat pada era yang sama dengan peristiwa yang terjadi (kontemporer), sehingga memiliki tingkat akurasi tinggi untuk memperjelas penanggalan maupun struktur birokrasi pemerintahan kala itu.
Diplomasi Global dan Kekayaan Majapahit di Mata Dunia
Pemerintahan Jayanegara nyatanya tidak hanya berkutat pada upaya pemadaman konflik internal di dalam negeri. Berdasarkan dokumen historis kekaisaran Tiongkok, Nusantara pada era tersebut telah aktif menjalankan hubungan diplomatik tingkat tinggi dengan mengirimkan utusan-utusan resmi ke Asia Timur.
Laporan independen lain juga datang dari barat melalui catatan perjalanan seorang biarawan asal Italia, Odorico da Pordenone. Dalam catatan penjelajahannya saat melintasi Pulau Jawa, Odorico menggambarkan Jawa sebagai wilayah berdaulat yang sangat berpengaruh, membawahi banyak kerajaan bawahan, serta bergelimang komoditas berharga seperti emas, perak, dan permata. Ia juga merekam adanya dinamika persaingan politik serta diplomasi yang sejajar antara raja di Jawa dengan Kekaisaran Tiongkok.
“Berbagai sumber tersebut membuktikan bahwa pemerintahan Jayanegara tidak sebatas persoalan pemberontakan internal semata. Ada aktivitas tata kelola wilayah yang solid, interaksi antarkerajaan, hingga hubungan internasional dengan kekuatan asing,” tegas Suwardono.
Ia menyimpulkan bahwa narasi Serat Pararaton tetap menjadi pijakan awal yang penting sebagai bahan pembanding. Meski demikian, uji silang data dengan bukti arkeologis seperti prasasti dan dokumen asing mutlak dilakukan agar pemahaman sejarah Nusantara—khususnya kejayaan era Majapahit—dapat terbangun secara objektif, proporsional, dan utuh bagi generasi muda.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post