Klarifikasi Pihak Pesantren Terkait Isu Perundungan Santriwati
Pihak pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Ghozali Lil Banat secara tegas membantah isu perundungan dan kekerasan fisik yang menimpa salah satu santriwatinya berinisial NNS. Informasi yang sempat beredar liar di publik tersebut dipastikan tidak benar atau hoaks setelah pihak pesantren memberikan penjelasan kronologi medis dan tindakan pengasuhan yang sebenarnya terjadi.
Pengasuh PPTQ Al-Ghozali Lil Banat, Ustaz Shofiyullah Romdoni, menjelaskan bahwa peristiwa ini bermula saat pengurus asrama melakukan pemeriksaan berkala terhadap para santri. Dalam pemeriksaan tersebut, pengurus mendapati kondisi rambut NNS kurang terawat, menggumpal pekat pada bagian depan, kusut, serta sulit disisir. Kondisi fisik ini dinilai berpotensi kuat memicu masalah kesehatan kulit kepala yang lebih serius jika dibiarkan.
Tindakan Medis dan Persetujuan Orang Tua
Sebelum mengambil keputusan memotong rambut, para pengurus asrama telah berupaya mengurai gumpalan rambut santriwati tersebut secara perlahan menggunakan minyak zaitun. Namun, jalinan rambut yang telah mengeras dikhawatirkan akan menimbulkan rasa sakit luar biasa jika dipaksa untuk disisir.
“Tindakan pemotongan rambut diambil sebagai solusi terbaik demi kesehatan kulit kepala yang bersangkutan. Sebelum dipotong rambutnya, kami sudah mengomunikasikan dan mendapatkan persetujuan langsung dari orang tua santri,” ujar Ustaz Shofiyullah dalam keterangannya.
Pascapemotongan sebagian rambut untuk alasan higienitas, pengurus asrama juga mendampingi NNS untuk keramas, mengganti pakaian dengan yang bersih dan suci, serta menyajikan minuman untuk memastikan kenyamanan sang santriwati.
Hasil Diagnosis Dokter Patahkan Isu Penganiayaan
Menanggapi rumor berkembang yang menyebutkan adanya benjolan di kepala NNS akibat dugaan penganiayaan, pihak pesantren membeberkan bukti medis resmi. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter yang diupayakan oleh pihak keluarga, diagnosis medis memastikan bahwa benjolan tersebut bukan disebabkan oleh benturan benda tumpul maupun tindakan kekerasan fisik.
“Kami menghormati hasil pemeriksaan tersebut dan sejak awal tidak ingin membuat asumsi medis sepihak,” tegas Ustaz Shofiyullah.
Sebagai langkah evaluasi ke depan, manajemen PPTQ Al-Ghozali Lil Banat berkomitmen untuk memperketat pola pembinaan akhlak di lingkungan asrama, meningkatkan kepekaan pengurus, serta mempererat komunikasi dua arah dengan para wali santri. Pihak pesantren menegaskan posisi menolak keras segala bentuk perundungan, kekerasan, maupun tindakan yang merendahkan martabat manusia di lingkungan pendidikan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post