Pertamina Jajaki Kemitraan Strategis dengan MedcoEnergi untuk Produksi Bioetanol
Raksasa energi nasional, Pertamina, tengah mengintensifkan pembicaraan dengan perusahaan energi swasta MedcoEnergi terkait rencana kolaborasi produksi bioetanol. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis perusahaan untuk memperluas portofolio energi hijau sekaligus mendukung target pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Senior Vice President Business Development Pertamina, Ary Kurniawan, menegaskan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk menggandeng sektor swasta dalam pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia. Diskusi dengan MedcoEnergi menjadi bukti konkret komitmen tersebut, terutama dalam upaya menghidupkan kembali fasilitas produksi yang sempat tidak beroperasi.
Reaktivasi Fasilitas Produksi di Lampung
Kerja sama antara kedua entitas ini sebenarnya telah dirintis melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada awal tahun 2026. Fokus utama dari kesepakatan tersebut adalah mengeksplorasi rencana reaktivasi pabrik bioetanol milik MedcoEnergi yang berlokasi di Lampung.
Fasilitas tersebut diketahui telah berhenti beroperasi lebih dari satu dekade lalu akibat kendala pasokan bahan baku, yakni tetes tebu (molase) dan singkong. Dengan keterlibatan Pertamina, diharapkan kendala rantai pasok bahan baku dapat diatasi, mengingat Pertamina saat ini telah memiliki pengalaman dalam pemasaran produk bioetanol melalui Pertamax Green 95 yang berbasis molase.
Akselerasi Transisi Energi Menuju E50
Di sisi lain, pemerintah Indonesia terus menunjukkan konsistensi dalam kebijakan transisi energi. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah tetap pada rencana ambisius untuk meningkatkan kadar campuran bioetanol secara bertahap.
Saat ini, kebijakan E5 (campuran 5 persen bioetanol) telah diimplementasikan secara nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan menjadi E20 pada tahun 2028, dengan visi jangka panjang mencapai E50. Bahlil optimistis bahwa penerapan E50 akan menekan angka impor bensin secara signifikan.
“Kita harus mampu menekan impor bensin seminimal mungkin dengan penerapan E50. Kita bisa belajar dari negara seperti Brasil, yang bahkan sudah menggunakan bahan bakar etanol murni di beberapa wilayahnya,” ujar Bahlil dalam sebuah forum diskusi energi di Jakarta.
Langkah Strategis di Tengah Tantangan Energi
Bagi MedcoEnergi, yang tercatat sebagai perusahaan minyak dan gas swasta terbesar di Indonesia dengan rata-rata produksi mencapai 156 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) sepanjang 2025, kolaborasi ini menjadi peluang untuk mendiversifikasi bisnis ke arah energi terbarukan. Sinergi antara infrastruktur swasta dan jangkauan pasar Pertamina dipandang sebagai kunci keberhasilan transisi energi nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post