JAKARTA – Raksasa energi milik negara, Pertamina, secara resmi membuka pintu bagi investor strategis swasta untuk bergabung dalam pengembangan ekosistem bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah progresif ini diumumkan tidak lama setelah perseroan menjalin kesepakatan strategis dengan produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat, Boeing.
Inisiatif hijau ini merupakan bagian dari transformasi besar Pertamina untuk mendiversifikasi sumber pendapatan di luar produksi minyak bumi konvensional. Melalui pengembangan avtur ramah lingkungan ini, Pertamina membidik pasar penerbangan domestik maupun internasional yang kini tengah bertransisi menuju era bebas emisi.
Menggandeng Investor Global dan Boeing
Senior Vice President Business Development Pertamina, Ary Kurniawan, mengungkapkan bahwa perseroan saat ini sedang aktif menjajaki kemitraan global. Langkah ini dinilai krusial untuk mempercepat komersialisasi dan memperkuat rantai pasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan di tanah air.
“Kami sedang dalam proses mengundang beberapa mitra atau investor strategis ke dalam ekosistem SAF kami,” ujar Ary dalam sebuah forum investasi di Jakarta. Meski belum merinci sejauh mana proses negosiasi yang sedang berjalan, Ary optimistis bisnis SAF ini akan menjadi pilar penting dalam membantu pemerintah menekan emisi karbon di sektor transportasi udara.
Sebelumnya, komitmen Pertamina dalam industri avtur hijau ini diperkuat lewat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Boeing. Kedua raksasa industri ini sepakat untuk berkolaborasi dalam mengidentifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi konversi, serta penyusunan dukungan regulasi guna mempercepat implementasi penggunaan SAF secara massal.
Ambisi Indonesia Menjadi Pemain Utama Dunia
Ambisi pengembangan avtur hijau ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto. Dalam beberapa kesempatan, Presiden Prabowo menegaskan dukungannya terhadap pembatasan ekspor minyak jelantah (used cooking oil) berbasis kelapa sawit, yang merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan SAF. Langkah proteksi ini diambil agar bahan baku tersebut dapat diolah di dalam negeri demi mewujudkan target Indonesia sebagai pemasok avtur ramah lingkungan terbesar di dunia.
Saat ini, Pertamina telah berhasil memproduksi SAF di kilang minyak (refinery) miliknya di Cilacap dengan memanfaatkan campuran minyak jelantah. Keandalan produk ini juga telah diuji coba secara sukses pada penerbangan perdana maskapai Pelita Air—anak usaha Pertamina—tahun lalu. Ke depan, Pertamina menegaskan kesiapannya untuk mulai mengekspor avtur hijau ini ke pasar global.
Potensi Melimpah di Kawasan Regional
Berdasarkan laporan ASEAN Outlook, Indonesia memiliki potensi yang sangat menjanjikan dalam industri energi terbarukan ini. Pasokan potensial SAF Indonesia diproyeksikan mampu mencapai angka 2 juta barel per hari pada tahun 2030.
Proyeksi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu raksasa produsen avtur hijau di Asia Tenggara, tepat di bawah Thailand yang diperkirakan memiliki kapasitas pasokan hingga 3 juta barel per hari. Dengan dukungan modal dari investor strategis dan transfer teknologi dari mitra global seperti Boeing, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memimpin revolusi penerbangan hijau di kawasan regional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post