Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing, China, yang juga membawahi wilayah akreditasi Mongolia, menggelar forum bisnis strategis bertajuk Indonesia–Mongolia Business Dialogue pada Selasa (29/9/2026). Mengusung tema “70 Years of Partnership: New Era of Cooperation”, agenda ini diselenggarakan untuk memperingati tujuh dekade hubungan diplomatik kedua negara sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi bilateral secara nyata.
Forum ini menjadi momentum krusial bagi pelaku usaha dari kedua belah pihak untuk mengeksplorasi potensi kemitraan baru. Berdasarkan data tahun 2025, volume perdagangan bilateral Indonesia dan Mongolia berada di angka 56 juta dolar AS (sekitar Rp1 triliun), dengan nilai ekspor Indonesia mencapai 49 juta dolar AS (sekitar Rp868 miliar). Saat ini, komoditas ekspor Indonesia ke Mongolia masih didominasi oleh produk farmasi dan minyak kelapa sawit.
Mendorong Diversifikasi dan Interaksi Pelaku Usaha
Duta Besar Republik Indonesia untuk China merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun, menekankan pentingnya pendekatan people-to-people contact sebagai fondasi utama keberhasilan hubungan antarbangsa. Menurutnya, peran pemerintah adalah membukakan jalan dan memfasilitasi, sementara implementasi kerja sama ekonomi berada di tangan para pelaku usaha.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Duta Besar Indonesia untuk China, Irene, menyoroti struktur ekspor Indonesia ke Mongolia yang sejauh ini masih tergolong homogen. Ia menggarisbawahi perlunya langkah terobosan melalui diversifikasi sektor komoditas, investasi bersama, serta perluasan jejaring bisnis agar nilai perdagangan bilateral dapat meningkat signifikan.
Dari pihak Mongolia, Presiden Mongolia National Chamber of Commerce and Industry, Baatarjav Lkhagvajav, menyambut positif peluang ekspansi tersebut. Meski kedua negara terpisah jarak geografis yang cukup jauh, ia menilai ada potensi besar yang belum tergarap optimal, khususnya di sektor produk daging, industri farmasi, dan pertambangan.
Memandatkan Sektor Pangan hingga Jasa Pariwisata
Dialog bisnis yang dipandu oleh Konsul Jenderal RI Shanghai, Berlianto Situngkir, ini mengupas tuntas regulasi perdagangan serta peta peluang pasar di kedua negara. Forum tersebut dihadiri oleh 40 perwakilan pelaku usaha dari Indonesia dan Mongolia yang bergerak di berbagai industri, mulai dari produk makanan siap saji dan olahan, minuman, suplemen kesehatan, hingga sektor jasa pariwisata.
Sejumlah merek dan perusahaan asal Indonesia turut memamerkan produk unggulannya dalam ajang ini, di antaranya Rempah Gurih Nusantara, Bospres Hydrocolloids yang mengolah komoditas rumput laut, produsen minuman Bali Hai, serta perwakilan Kapal Api di China. Perwakilan Kapal Api, Liky Sutikno, menilai laju pertumbuhan ekonomi Mongolia yang positif menjadi daya tarik tersendiri bagi ekspansi produk-produk konsumen dari Indonesia.
Undangan Khusus Trade Expo Indonesia 2026
Sebagai langkah konkret untuk memperluas penetrasi pasar, Atase Perdagangan KBRI Beijing, Junita Syartika, mendorong para pengusaha Mongolia untuk mengidentifikasi secara langsung produk-produk Indonesia yang relevan dengan kebutuhan pasar domestik mereka.
Dalam kesempatan itu, perwakilan pemerintah Indonesia secara resmi mengundang para pelaku bisnis Mongolia untuk hadir dalam perhelatan Trade Expo Indonesia 2026. Pameran dagang internasional tersebut diharapkan menjadi sarana efektif bagi para pengusaha Mongolia untuk melihat langsung ragam produk berkualitas serta menjajaki peluang kerja sama investasi jangka panjang dengan mitra di Indonesia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post