MALANG TODAY – Genap empat tahun berlalu sejak peristiwa kelam yang merenggut 135 nyawa di Stadion Kanjuruhan, ingatan dan rasa duka masih melekat erat di dada masyarakat Malang Raya. Menandai peringatan empat tahun tragedi Kanjuruhan pada Kamis (1/10/2026), manajemen Arema FC menggelar serangkaian kegiatan doa bersama, tahlilan, hingga santunan anak yatim.
Rangkaian peringatan diawali pada Kamis pagi di Markas Arema FC, yang dikenal dengan sebutan Kandang Singa, di Jalan Mayjen Panjaitan, Kota Malang. Selanjutnya pada Kamis malam, jajaran manajemen dijadwalkan bergabung bersama keluarga korban, suporter Aremania, serta tokoh agama untuk memanjatkan doa bersama di area Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Merawat Ingatan dan Meringankan Trauma Psikologis
General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, mengonfirmasi bahwa agenda doa bersama ini dirancang untuk merawat ingatan sekaligus menguatkan ikatan emosional antara klub, keluarga korban, dan publik Malang.
“Kami menggelar tahlilan dan santunan anak yatim secara sederhana di kantor klub. Lalu pada malam harinya, tanggal 1 Oktober 2026, kami menghadiri undangan dari keluarga korban dan Romo Suroso untuk berdoa bersama di Stadion Kanjuruhan,” ujar pria yang akrab disapa Inal tersebut.
Inal mengakui, luka mendalam akibat peristiwa Oktober 2022 lalu tidak mudah terhapus begitu saja. Dampak psikologis dan trauma massal hingga kini masih menyelimuti banyak pihak, terutama para keluarga yang kehilangan anggota kerabat mereka.
“Terutama dari sisi keluarga korban. Kita semua, seluruh masyarakat Malang Raya, merasakan trauma dan impact psikologis itu sampai hari ini,” imbuhnya.
Mendorong Kebangkitan Ekosistem dan Ekonomi Lokal
Kendati luka trauma belum sepenuhnya pulih, manajemen Singo Edan menekankan pentingnya langkah bersama untuk mulai bangkit. Menurut Inal, sepak bola telah menjadi napas kehidupan, identitas sosial, serta penggerak roda ekonomi warga Malang.
Stadion Kanjuruhan selama bertahun-tahun bukan sekadar arena pertandingan, melainkan pusat perputaran ekonomi UMKM, tempat berkumpulnya subkultur Malangan, dan simbol kebanggaan daerah.
“Tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun, setelah empat tahun berjalan, kami menilai sudah waktunya kita bergerak maju. Pascatragedi, aktivitas ekonomi dan sosial di kawasan Stadion Kanjuruhan seolah-olah berhenti total,” papar Inal.
Membuktikan Malang Mampu Sembuh dan Bangkit
Manajemen Arema FC menilai bahwa memulihkan ekosistem sepak bola di Stadion Kanjuruhan secara bertahap akan memberikan dampak positif yang luas bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. Langkah ini sekaligus menjadi pesan kuat kepada komunitas sepak bola internasional bahwa Malang memiliki ketangguhan untuk bangkit dari masa-masa tergelapnya.
“Sangat disayangkan jika potensi ekosistem sepak bola di Kanjuruhan harus mati suri selamanya. Kami mengajak seluruh elemen di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu untuk kembali bergerak bersama. Ada banyak cara untuk menyembuhkan luka psikologis, dan salah satunya adalah dengan tidak berhenti melangkah,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post