Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Air, Retno Marsudi, menyerukan tindakan global yang lebih masif untuk mengatasi krisis pendanaan di sektor air dan sanitasi. Sektor vital ini dinilai masih sangat minim investasi, padahal dunia tengah berpacu dengan waktu untuk menutup defisit dana infrastruktur air yang mencapai triliun dolar AS sebelum akhir dekade ini.
Dalam pidatonya di ajang Indonesia International Sustainability Forum, mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia tersebut menegaskan bahwa sudah saatnya komitmen global diubah menjadi aksi nyata melalui pengalihan arus modal ke pembangunan jaringan pipa dan fasilitas sanitasi dasar. Tanpa intervensi finansial yang signifikan, pertumbuhan ekonomi global dipastikan akan terhambat mengingat air merupakan penopang utama keberlanjutan ekonomi.
Ancaman Krisis Sanitasi dan Defisit Pendanaan $7 Triliun
Ketimpangan investasi di sektor air membawa dampak kemanusiaan yang mengkhawatirkan. Proyeksi PBB menunjukkan bahwa jika tren investasi saat ini terus berlanjut, sebanyak 3 miliar orang diperkirakan akan hidup tanpa fasilitas sanitasi yang aman pada tahun 2030. Selain itu, sekitar 2 miliar jiwa tidak akan memiliki akses terhadap air minum yang layak, dan separuh di antaranya bahkan harus bertahan hidup tanpa fasilitas cuci tangan yang memadai.
Laporan Bank Dunia turut memperkuat peringatan tersebut dengan mencatat adanya kesenjangan investasi infrastruktur air yang sangat fantastis, yakni mencapai $7 triliun (sekitar Rp110.000 triliun) yang harus dipenuhi oleh negara-negara di dunia hingga tahun 2030. Solusi teknis sebenarnya telah banyak tersedia, namun tantangan utamanya adalah meningkatkan skala penerapannya melalui prioritas investasi dan penyusunan proyek yang bankable.
Kebutuhan Keterlibatan Swasta dan Pengembangan Kapasitas SDM
Menghadapi besarnya dana yang dibutuhkan, PBB mendorong keterlibatan aktif dari sektor swasta. Pemerintah dan badan-badan PBB tidak akan mampu menanggung beban pembangunan infrastruktur air secara mandiri. Kendati demikian, modal yang masuk harus diarahkan pada proyek-proyek yang berorientasi pada kepentingan masyarakat (people-centered).
Penyediaan dana saja tidak cukup tanpa diimbangi oleh kesiapan sumber daya manusia. Penguatan keterampilan tenaga kerja lokal yang akan mengoperasikan teknologi air menjadi syarat mutlak agar investasi yang disalurkan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan dan tepat guna.
Tekanan Baru dari Teknologi AI dan Tantangan Domestik Indonesia
Krisis air global kini menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Penggunaan AI yang semakin masif, termasuk pengoperasian pusat data untuk melayani aplikasi percakapan (chatbot), mengonsumsi sumber daya air dalam jumlah yang sangat besar. Lonjakan pemakaian air di sepanjang rantai pasok teknologi AI diperkirakan dapat meningkat hingga 129% dalam beberapa tahun ke depan.
Di tingkat domestik, Indonesia sendiri sedang menghadapi gelombang suhu tinggi dan ancaman kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun. Guna memitigasi dampak terhadap ketahanan pangan, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah menyiagakan pompa-pompa air ke kawasan pertanian dan membangun jaringan distribusi air darurat. Upaya modernisasi sanitasi di tanah air juga terus mendapat dukungan internasional, termasuk kucuran paket pinjaman sebesar $419,6 juta dari Asian Development Bank (ADB) untuk pengembangan infrastruktur sanitasi nasional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post