Optimalisasi Pemantauan Kebakaran Hutan di Kawasan Bromo
Upaya mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kini makin diperketat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengandalkan aplikasi sistem pemantauan karhutla SiPongi milik Kementerian Kehutanan untuk mendeteksi keberadaan titik panas (hotspot) secara kargo dan real-time di wilayah Malang Raya dan sekitarnya.
Langkah digitalisasi pemantauan ini diambil guna mengantisipasi terulangnya insiden kebakaran hebat yang kerap mengancam ekosistem Bromo, terutama saat memasuki musim kemarau dan cuaca ekstrem.
Pentingnya Verifikasi Lapangan untuk Memastikan Titik Api
Meski mengandalkan teknologi satelit SiPongi, pihak berwenang menegaskan bahwa setiap sinyal titik api yang terdeteksi tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kebakaran hutan skala besar. Verifikasi faktual di lapangan oleh tim gabungan tetap menjadi prosedur standar yang wajib dilakukan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa tim di lapangan harus memastikan penyebab munculnya titik panas tersebut guna menghindari kepanikan dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Dengan adanya SiPongi tersebut, kami juga harus memastikan wilayah tersebut apakah memang benar-benar terbakar hutannya atau kebakaran tersebut karena sampah yang dibersihkan oleh warga atau lahan akibat hasil panen yang dibakar,” ujar Gatot Soebroto.
Tantangan Luas Wilayah dan Himbauan Aktivitas Warga
Kawasan TNBTS yang membentang luas di empat wilayah kabupaten—termasuk Kabupaten Malang—memiliki topografi yang kompleks. Kondisi ini membuat patroli darat secara menyeluruh kerap menghadapi kendala keterbatasan jangkauan fisik. Oleh karena itu, penggabungan antara patroli keliling berkala oleh petugas Balai Besar TNBTS dan pemantauan satelit menjadi solusi krusial.
BPBD Jatim juga mengimbau keras masyarakat lokal, petani, serta wisatawan yang beraktivitas di sekitar kawasan Bromo agar tidak melakukan tindakan ceroboh. Pembakaran sampah dan pembersihan lahan pertanian harus dilakukan dengan pengawasan ekstra ketat.
“Jangan sampai bara terbawa ke suatu tempat, di situ ternyata sumber bahan bakunya banyak, ilalang kering dan bahan kayu yang kering banyak. Ini bisa menjadi penyebab dari bara kecil tadi membakar area-area yang rentan kebakaran,” tegas Gatot.
Faktor angin kencang di dataran tinggi Bromo menjadi ancaman serius karena mampu menerbangkan bara api kecil ke hamparan savana dan vegetasi kering. Pihak BPBD bersama pengelola kawasan wisata mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk segera melaporkan potensi percikan api sekecil apa pun demi menjaga kelestarian ikon wisata alam Jawa Timur ini.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post