Tantangan Literasi di Era Digital
Pesatnya perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memberikan kemudahan tanpa batas bagi para pelajar di Malang Raya dalam mengakses informasi. Kendati demikian, kepraktisan ini bagai pisau bermata dua. Kemudahan serba instan tersebut berpotensi menumpul daya kritis siswa, lantaran mereka kerap hanya mengandalkan rangkuman otomatis tanpa benar-benar memahami substansi materi pembelajaran secara mendalam.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari para praktisi pendidikan di Kota Malang. Penggunaan teknologi AI di lingkungan sekolah dinilai tidak perlu diharamkan, melainkan harus disikapi secara bijak agar tidak mengikis budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis para generasi muda.
AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Referensi Utama
Guru Sejarah SMK Putra Indonesia Malang, Fahrisyal Ainur, menegaskan bahwa keberadaan AI seyogianya dioptimalkan sebagai sarana pendukung (tools), bukan dijadikan sebagai satu-satunya rujukan atau sumber referensi tunggal dalam tugas akademis.
“Saya tidak melarang anak-anak menggunakan AI, tetapi AI itu hanya sebagai tools, bukan sebagai referensi. Anak-anak harus tetap mencari informasi dari website, buku, atau jurnal, kemudian membaca dan memahami informasi tersebut sebelum menjelaskannya dengan bahasa mereka sendiri,” ujar Fahrisyal Ainur saat memberikan pandangannya terkait dinamika pendidikan digital di Kota Malang.
Ia menambahkan, proses verifikasi informasi melalui berbagai sumber yang kredibel menjadi krusial. Penggunaan kecerdasan buatan seharusnya mempermudah siswa dalam membedah materi, bukan malah menggantikan proses membaca, menalar, dan berpikir mandiri.
Memperkuat Budaya Membaca di Sekolah
Guna mengimbangi gempuran serba instan di era digital, peningkatan kemampuan literasi menjadi prioritas utama dalam metode pembelajaran di SMK Putra Indonesia Malang. Para siswa terus didorong untuk membangun kebiasaan membaca buku secara konsisten dan terstruktur.
“Di sekolah kami, anak-anak memiliki target membaca minimal satu buku dalam satu semester. Membaca itu menjadi dasar untuk memahami informasi, kemudian dari informasi itu mereka bisa menarik sebuah kesimpulan,” tegas Fahrisyal.
Menurutnya, tantangan terbesar tenaga pendidik saat ini bukan lagi soal seberapa cepat siswa mendapatkan data, melainkan memastikan data yang didapat mampu dicerna dan dipahami dengan benar.
“Teknologi seharusnya membantu anak-anak belajar dengan lebih mudah, bukan membuat mereka berhenti membaca, berhenti berpikir, atau berhenti menjelaskan dengan kemampuan mereka sendiri,” pungkasnya.
Harapannya, integrasi teknologi modern seperti AI di lembaga-lembaga pendidikan wilayah Malang Raya tetap sejalan dengan penguatan literasi dasar. Dengan keseimbangan tersebut, teknologi akan menjadi alat pendorong prestasi yang efektif tanpa merusak tradisi berpikir kritis peserta didik.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post