NEW YORK — Keberhasilan China dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan ekstrem menjadi bukti nyata bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) PBB dapat diwujudkan. Melalui strategi pembangunan berbasis infrastruktur dan Inisiatif Sabuk dan Jalan Sutra (Belt and Road Initiative/BRI), pendekatan yang diterapkan negara tersebut dinilai patut menjadi teladan bagi negara-negara berkembang di dunia.
Analis ekonomi-politik asal Amerika Serikat untuk Afrika, Lawrence Freeman, mengungkapkan bahwa keberhasilan ekonomi China selama dua generasi terakhir memberikan contoh berharga di tengah besarnya tantangan global. Saat ini, sekitar 800 juta jiwa di seluruh dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan 440 juta jiwa di antaranya berada di benua Afrika.
Transformasi Ekonomi dan Infrastruktur
Freeman menyoroti bagaimana China berhasil merombak total struktur perekonomiannya dan mengentaskan kemiskinan ekstrem di kawasan perdesaan dalam waktu relatif singkat. Keberhasilan ini didorong oleh fokus yang kuat pada pertumbuhan ekonomi fisik yang berbasis pembangunan infrastruktur serta tata kelola ekonomi yang efektif.
Langkah tersebut membuktikan kepada komunitas internasional bahwa target-target pengentasan kemiskinan global bukan sekadar wacana, melainkan hal yang realistis untuk dicapai jika didukung komitmen pembangunan yang teguh.
Kontribusi Nyata Melalui BRI dan BRICS
Selain transformasi domestik, peran China di ranah global seperti Inisiatif Pembangunan Global, program BRI, serta penguatan kelompok BRICS memberikan kontribusi nyata di lapangan. Program BRI dinilai berhasil menarik investasi infrastruktur vital yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara berkembang di kawasan Global South, pasokan investasi yang sebelumnya jarang disentuh oleh negara-negara Barat.
Di Benua Afrika, implementasi BRI menjadi motor penggerak utama dalam pembangunan proyek-proyek fisik strategis. Dukungan investasi ini mencakup sektor-sektor krusial seperti pembangkit listrik, jaringan kereta api, pelabuhan, hingga bandar udara yang menopang konektivitas ekonomi wilayah tersebut.
Tantangan Global dan Paradigma Baru
Berdasarkan data terbaru dari PBB, pencapaian target SDG 2030 secara global masih menghadapi hambatan serius. Hanya sekitar 36 persen target SDG yang berada di jalur yang tepat atau mengalami kemajuan moderat, sementara 15 persen sisanya justru mencatatkan kemunduran.
Melihat kondisi tersebut, Freeman mendorong terciptanya paradigma baru yang berfokus penuh pada kemajuan ekonomi di setiap negara. Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah pembentukan lembaga kredit internasional baru. Lembaga ini diharapkan mampu menyalurkan kredit jangka panjang dengan bunga rendah secara memadai guna membiayai investasi infrastruktur berkelanjutan di berbagai negara berkembang.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post