Melayari Badai Stigma: SKEIM Tebarkan Doa dan Keberanian Lewat Single Perdana “Sail Prayers”
Geliat kancah musik independen Kota Malang seolah tak pernah kehabisan amunisi segar. Kali ini, giliran SKEIM—kuintet surf rock yang dihuni oleh Fezy (vokal/gitar), Zeva (gitar), Ilham (drum), Alfin (bas), dan Tommy (kibor)—yang resmi menancapkan jangkar debutnya di belantika musik tanah air. Lewat single bertajuk “Sail Prayers”, mereka tidak sekadar memperkenalkan tekstur musik yang rancak, tetapi juga melayangkan sebuah pesan eksistensial yang tajam dan reflektif.
Lahir dari gesekan realitas sosial, “Sail Prayers” dipicu oleh pengalaman para personel dalam berhadapan dengan stigma negatif yang kerap disematkan pada lingkar pertemanan mereka. Alih-alih meratapi atau menghindari stereotip tersebut, SKEIM memilih menyulap krisis menjadi karya artifisial yang bertenaga. Lagu ini menjadi manifesto keberanian untuk merayakan perbedaan di tengah himpitan norma arus utama.
Zeva, sang gitaris sekaligus penulis lagu, menegaskan bahwa prasangka publik justru menjadi bahan bakar utama kreativitas mereka. “Entah stigma seperti apa yang sudah bersliweran, kami tidak pernah menganggapnya sebagai hal buruk. Justru sebagai trigger untuk menulis sebuah perasaan menjadi lagu yang mungkin mewakili pikiran kami tersebut,” ungkapnya. Bagi SKEIM, memeluk keunikan diri adalah sebuah keniscayaan, meskipun apa yang diyakini secara personal belum tentu berjalan selaras dengan pandangan mayoritas.
Eksplorasi Musikalitas: Ketika Surf Rock Bertemu Atmosfer Horor dan Badai
Secara komposisi musikal, SKEIM enggan terjebak dalam formula surf rock konvensional yang melulu bersenang-senang di bawah terik matahari. Dalam “Sail Prayers”, mereka secara berani menyuntikkan lanskap audio yang dramatis dan cenderung gelap. Hadirnya sentuhan organ Hammond bernuansa horor serta orkestrasi efek suara hujan dan petir memberi warna sonik yang tidak biasa, sekaligus memperkuat narasi utama lagu.
Elemen-elemen auditori tersebut dirancang dengan presisi konsep yang matang. Tommy, sang kibordis, menjelaskan bahwa detail suara alam dan organ tersebut merupakan metafora atas perjalanan awal mereka sebagai kuintet musik. “Suara hujan dan petir menjadi metafora sebuah kapal yang berlayar di tengah badai, menggambarkan perjalanan kami dalam memulai debut ini, yang mau tidak mau harus siap menghadapi berbagai rintangan ke depannya,” jelasnya.
Sementara itu, karakter tegang dari instrumen Hammond merepresentasikan kecemasan kolektif para personel saat melangkah ke fase anyar. “Karakter horor digunakan untuk merepresentasikan rasa takut dan kecemasan yang muncul ketika mulai memasuki fase baru. Jadi, elemen-elemen ini bukan sekadar pemanis, melainkan representasi perjalanan dan perasaan kami dalam singel debut ini,” tambah Tommy.
Menatap Ekosistem Komunitas dan Langkah Selanjutnya
Sebagai produk asli dari subkultur Malang yang hangat dan kolaboratif, SKEIM memahami betul pentingnya ruang bertumbuh. Pasca-rilisnya “Sail Prayers”, mereka sudah membidik berbagai wadah eksperimentasi lokal untuk menguji energi panggung mereka, salah satunya adalah ruang reka cipta yang dikelola oleh Titik Dua Kolektif.
Sang basis, Alfin, menuturkan bahwa ekosistem lokal seperti Titik Dua Kolektif menjadi ruang krusial bagi band semenjana untuk berjejaring dan saling silang gagasan dengan para musisi senior. Keinginan untuk melantai di panggung-panggung independen ini menjadi sinyal kuat bahwa SKEIM siap berlayar lebih jauh, menembus gelombang, dan mengukir jejak bernas mereka di kancah musik nasional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post