Merayakan Melankolia: Kolaborasi Panjang Gloria Jessica dan Ade Govinda dalam ‘Blue.’
Ada masa di mana kesedihan tidak perlu dihindari, melainkan dirayakan dan didengarkan dengan khidmat. Premis inilah yang tampaknya melandasi lahirnya album kolaborasi perdana antara penyanyi berkarakter vokal kuat, Gloria Jessica, dan sang hitmaker bertangan dingin, Ade Govinda. Bertajuk “Blue.”, album yang resmi mengudara pada awal Oktober ini menjadi sebuah monumen melankolia yang megah, merangkum 11 trek yang didedikasikan khusus untuk meraba kembali luka-luka akibat patah hati dan kehilangan.
Menariknya, proyek ambisius ini bukanlah sebuah karya yang lahir dari proses instan semalam. Hubungan artistik keduanya telah terjalin sejak tahun 2018, ketika Ade pertama kali mendekati Gloria dengan draf satu lagu. Siapa sangka, kecocokan chemistry dan visi bermusik yang mendalam selama hampir sewindu itu justru menuntun mereka untuk melahirkan sebuah album penuh. Bagi Gloria, kolaborasi panjang ini bukan sekadar urusan dapur rekaman, melainkan sebuah ruang bertumbuh. Ia mengaku banyak menyerap kebijaksanaan dari Ade, baik dalam konteks musikalitas maupun navigasi karier dan kehidupan.
Eksplorasi Rasa Patah Hati yang Multi-Dimensi
Mengambil judul dari idiom populer feeling blue yang identik dengan kemurungan, album ini tidak terjebak dalam satu warna aransemen yang monoton. Ade Govinda dengan jeli mengemas 11 lagu patah hati di album ini dengan pendekatan yang berbeda-beda. Pendengar diajak mengarungi berbagai fase kesedihan, mulai dari keputusasaan yang sunyi hingga penerimaan yang getir namun dewasa.
Beberapa nomor kuat seperti “Terbelah Jadi Dua”—yang telah lebih dulu menyapa pendengar sebagai cetak biru proyek ini—menunjukkan bagaimana vokal Gloria mampu mengiris emosi pendengar dengan presisi yang pas. Sentuhan dingin Barsena Bestandhi sebagai produser vokal di album ini berhasil mengeksplorasi dinamika vokal Gloria hingga ke titik terbaiknya. Selain itu, nomor-nomor seperti “Timpang”, “Dominasi”, “Baik-Baik”, dan “Kepastian” hadir memperkuat narasi kerapuhan hubungan manusia yang menjadi benang merah album ini.
Satu yang mencuri perhatian adalah hadirnya versi baru dari lagu megah “Tanpa Batas Waktu”. Lagu ciptaan Ade yang sempat meledak lewat kolaborasi bersama Fadly pada tahun 2020 lalu kini hadir dengan interpretasi yang lebih intim dan personal lewat tarikan suara Gloria, memberikan napas baru yang tidak kalah magis dari versi aslinya.
Kehilangan yang Personal dan Penutup Instrumental yang Megah
Kekuatan utama dari album “Blue.” terletak pada kejujuran emosinya. Bagi Gloria Jessica, lagu “Timpang” memiliki resonansi emosional yang sangat personal dan mendalam. Dirilis di tengah duka mendalam atas kepergian sang ibu menjelang peluncuran album, lagu ini bertransformasi menjadi sebuah ode universal tentang kehilangan. Kehilangan di sini tidak lagi menyempit pada perkara romansa muda-mudi, melainkan sebuah perpisahan absolut dengan sosok-sosok paling berharga dalam hidup.
Visualisasi rasa kehilangan tersebut digarap dengan apik oleh sutradara Bagoes Tresna lewat video musik “Timpang” yang dibintangi oleh Dinda Kirana dan Theo Supple. Akting keduanya berhasil menangkap sunyinya penyesalan dan ruang kosong yang ditinggalkan oleh orang tercinta.
Sebagai penutup dari perjalanan emosional ini, pendengar disajikan sebuah kejutan berupa trek instrumental berdurasi 7 menit 36 detik yang juga bertajuk “Blue.”. Tanpa untaian lirik, lagu ini berbicara murni lewat raungan gitar, ketukan drum, dan bass yang megah. Kolaborasi internasional dihadirkan di trek ini dengan keterlibatan gitaris Mads Wegner serta sentuhan magis Jonas Bjerre sebagai teknisi rekaman. Trek penutup ini seolah menjadi ruang kontemplasi akhir, membiarkan pendengar memproses seluruh kesedihan yang telah dialirkan sejak lagu pertama.
Pada akhirnya, album kolaborasi ini bukan sekadar parade lagu-lagu sedih yang cengeng. Lewat kedewasaan bermusik Ade Govinda dan kedalaman rasa dari Gloria Jessica, album ini menjadi ruang aman bagi siapa saja yang sedang berdamai dengan luka. Sebuah pengingat bahwa untuk bisa bahagia seutuhnya, kita harus berani melewati fase terluka dengan lapang dada.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post