JAKARTA — Bagi sebagian orang, berdiam diri dan memperlambat ritme hidup menjadi tantangan tersendiri di tengah kepungan rutinitas modern yang serba cepat. Fenomena ini kerap dirasakan oleh masyarakat urban yang terbiasa hidup dinamis, hingga akhirnya menemukan jeda melalui praktik terapi hutan atau forest therapy.
Terapi hutan kini kian populer di Indonesia sebagai alternatif wisata kebugaran (wellness tourism). Berakar dari konsep shinrin-yoku atau mandi hutan asal Jepang sejak era 1980-an, praktik ini mengajak peserta untuk melepas stres dengan berintegrasi penuh bersama alam menggunakan seluruh pancaindra.
Manfaat Medis dan Terapi Mental dari Alam
Manfaat terapi hutan tidak hanya dirasakan secara intuitif, tetapi juga memiliki landasan ilmiah yang kuat. Tumbuhan di hutan menghasilkan senyawa volatil alami bernama fitonsida sebagai mekanisme pertahanan diri. Ketika dihirup oleh manusia, paparan fitonsida terbukti dapat memberikan efek positif bagi kesehatan fisik dan mental.
Guru Besar IPB University, Prof. Siti Badriyah Rushayati, menjelaskan bahwa paparan udara hutan mampu meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami (natural killer cells) dalam tubuh yang berfungsi melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, paparan ini secara teratur dapat membantu menurunkan tekanan darah, meredakan stres, serta meningkatkan kesejahteraan mental.
Momentum kesehatan mental ini menjadi sangat krusial mengingat tingginya angka gangguan kecemasan dan depresi di masyarakat, termasuk pada anak-anak. Berdasarkan data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan RI periode 2025–2026, sebanyak 4,4 persen anak terdeteksi mengalami gangguan kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi dari sekitar 7 juta anak yang telah diskrining.
Melatih Mindfulness dan Tantangan Overthinking
Elemen utama dalam terapi hutan adalah melatih kesadaran penuh atau mindfulness, yaitu kemampuan untuk hadir secara utuh pada momen saat ini tanpa menghakimi perasaan atau pikiran yang muncul. Pengalaman ini dirasakan langsung oleh Wira (33), seorang ibu rumah tangga sekaligus wirausahawan yang mengikuti sesi terapi di Kebun Raya Bogor.
“Tantangan terbesar adalah melepaskan kebutuhan untuk selalu berpikir dan melakukan sesuatu. Saya belajar tidak semua hal perlu dianalisis. Ada kalanya kita cukup hadir, merasakan, dan membiarkan sesuatu berlangsung tanpa harus segera mencari makna atau solusinya,” ungkap Wira.
Praktisi psikologi Universitas Gunadarma, Dr. Hendro Prabowo, mengaminkan bahwa kecenderungan menganalisis secara berlebihan (overthinking) menjadi hambatan paling umum yang dihadapi peserta. Untuk mengukur efektivitas terapi terhadap keluhan fisik akibat stres, Hendro menerapkan metode visual pain drawing sebelum dan sesudah sesi.
Ia juga menambahkan bahwa aktivitas berjalan perlahan tanpa alas kaki (earthing) membantu melancarkan sirkulasi darah. Ketika kulit bersentuhan langsung dengan tanah, elektron bebas dari bumi mengalir ke dalam tubuh dan bekerja sebagai antioksidan alami penangkal radikal bebas.
Kriteria Kawasan Terapi Hutan
Berbeda dari kegiatan pendakian (hiking) yang menguras tenaga, terapi hutan dilakukan dengan aktivitas fisik ringan di medan yang datar. Menurut Prof. Siti dan Dr. Hendro, kawasan yang ideal untuk terapi hutan harus memiliki tingkat kebisingan yang rendah, udara sejuk, pepohonan rindang, serta area aliran sungai yang aman agar proses relaksasi pancaindra berjalan optimal.
Ke depan, para ahli berharap edukasi mengenai terapi hutan terus diperluas hingga mencakup kelompok lansia, pekerja urban, hingga remaja yang mengalami kecanduan gawai. Selain menjadi sarana pencegahan gangguan kesehatan fisik dan mental, tumbuhnya kesadaran ini diharapkan mampu mendorong kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan tata kota yang lebih hijau.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post