Menelusuri Akar Tradisi dalam Labirin Psychedelic
Kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, kembali melahirkan entitas musik yang menarik perhatian. Kali ini, sebuah proyek bernama Lajhuni Munyi muncul ke permukaan dengan membawa narasi budaya yang spesifik namun universal. Melalui single perdana berjudul “Bulân Molod”, sang inisiator, Lutfan Hawari, tidak sekadar merilis karya musik, melainkan menyajikan sebuah observasi sosiologis yang dibalut dalam estetika psikedelik yang kental.
Dekonstruksi Tradisi dalam Balutan Bunyi
“Bulân Molod” lahir dari keresahan Lutfan terhadap pergeseran makna dalam tradisi selamatan Maulid Nabi di Madura. Sebagai sosok yang tumbuh besar dalam lingkungan budaya tersebut, ia menangkap fenomena menarik perihal evolusi Bherkat—hantaran yang diberikan kepada tamu—yang kini cenderung bertransformasi menjadi simbol status sosial dan eksistensi pemilik hajatan. Lutfan dengan berani namun tetap sensitif, menerjemahkan kegelisahan ini ke dalam lirik berbahasa Madura, menjadikannya sebuah kritik halus yang beririsan dengan kompleksitas religiusitas dan modernitas.
Eksperimentasi Psychedelic dan Groove Lintas Budaya
Secara musikal, Lajhuni Munyi menawarkan lanskap suara yang segar. Lutfan berhasil mengawinkan distorsi psychedelic rock era 60-an dan 70-an dengan idiom kebudayaan Islam-Madura yang autentik. Penggunaan drive ampli dan efek reverb yang tebal menjadi fondasi utama, menciptakan atmosfer yang melayang sekaligus menghujam.
Keunikan komposisi ini semakin lengkap saat ketukan drum mulai masuk, memadukan groove Melayu dengan sentuhan ritme Timur Tengah. Perpaduan ini bukan sekadar tempelan, melainkan hasil dari eksplorasi Lutfan di studio yang mencari titik temu antara pengaruh musik global dengan akar identitasnya sendiri. Hasilnya adalah sebuah kesatuan bunyi yang unik, memberikan karakter kuat bagi Lajhuni Munyi sejak langkah pertamanya.
Meniti Jejak di Ekosistem Tapal Kuda
Kemunculan “Bulân Molod” menjadi penanda bahwa kancah musik di wilayah Tapal Kuda memiliki daya hidup yang luar biasa. Proyek ini membuktikan bahwa pengalaman kebudayaan yang dekat dengan keseharian mampu bertransformasi menjadi karya seni yang kontemporer dan relevan. Kehadiran Lajhuni Munyi juga menjadi cerminan dari ekosistem kreatif yang sehat di kawasan tersebut, yang kini didukung oleh berbagai kolektif dan ruang apresiasi seperti Setara Gigs, Indie Chord Gigs, hingga Shata Space.
Dengan debut yang matang secara konsep dan eksekusi, Lajhuni Munyi kini menjadi nama yang layak untuk terus dipantau. Mereka tidak hanya menawarkan musik untuk didengar, tetapi juga sebuah ruang refleksi bagi pendengarnya untuk kembali melihat tradisi dari kacamata yang berbeda.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post