Di tengah kepungan budaya serba kompetitif dan glorifikasi posisi puncak yang melelahkan, sebuah antitesis yang menyejukkan lahir dari dapur kreasi Lafa Pratomo. Menggandeng vokalis berkarakter Ari Lesmana serta unit elektronik-pop asal Bandung, White Chorus, Lafa melepas nomor anyar bertajuk “Juara Dua”. Trek ini meluncur sebagai repertoar keempat dari mini album kolaboratif Garis Tegak, menyuguhkan manifesto tentang seni berdamai dengan diri sendiri dan merayakan hidup tanpa harus selalu menuntut podium utama.
Merayakan Posisi Kedua di Tengah Tekanan Validasi
Alih-alih meratapi kekalahan, “Juara Dua” memotret penerimaan diri dari sudut pandang yang sangat manusiawi. Lafa Pratomo menegaskan bahwa berada di posisi kedua adalah keputusan sadar yang valid, terutama jika ruang tersebut memberikan kenyamanan batin dan ketenangan jiwa. Narasi ini beresonansi kuat dengan fase hidup yang tengah dialami Ari Lesmana, yang belakangan kerap mempertanyakan perlombaan tanpa henti dalam rutinitasnya. Bagi Ari, urgensi mencari pengakuan publik perlahan memudar, menegaskan sikap: “Gak perlu validasi juga, gak perlu apa-apa gitu.”
Keresahan senada turut diamini oleh White Chorus. Di mata duo ini, industri kreatif acap kali terjebak dalam ritme tergesa-gesa—sebuah pacuan instan untuk sekadar merilis karya demi algoritma. Melalui kolaborasi ini, mereka mengingatkan kembali hakikat berkarya: memiliki arah tujuan tanpa harus memandang proses cipta sebagai ajang perlombaan saling sikut dengan sesama kreator.
Perkawinan Akustik Mentah dan Ketukan Drum Break
Eksplorasi sonik “Juara Dua” berakar dari enam draf materi yang disodorkan oleh White Chorus ke meja produksi. Pilihan akhirnya jatuh pada sketsa keenam—sebuah aransemen organik yang mengawinkan tekstur drum break bernuansa lo-fi dengan denting gitar akustik yang hangat dan bersahaja. Karakter mentah inilah yang memikat telinga Ari Lesmana sejak pendengaran pertama.
Dinamika vokal menjadi salah satu kekuatan utama nomor ini. Berangkat dari percakapan santai yang dicatat rapi oleh Lafa ke dalam larik-larik lirik, chemistry antara Friska (White Chorus) dan Ari terjalin sangat cair. Mengimbangi warna vokal Friska yang melayang, Ari dengan cermat memilih register vokal yang lebih rendah. Keduanya saling bertukar peran secara dinamis, bergantian memegang kemudi vokal utama dan mengisi lapisan harmoni kedua yang memperkaya kedalaman lagu.
Monumen 12 Tahun Perjalanan Sang Produser
Hadirnya “Juara Dua” sekaligus mengukuhkan signifikansi proyek Garis Tegak, sebuah EP yang dirancang bersama KithLabo untuk merayakan 12 tahun dedikasi Lafa Pratomo sebagai produser dan arsitek bunyi di kancah musik arus pinggir maupun populer. Proyek ambisius ini merangkul 12 musisi lintas spektrum ke dalam enam nomor kolaborasi unik, mempertemukan spektrum kontras seperti Feby Putri dengan Matter Mos, Nadhif Basalamah bersama Hursa, hingga perjumpaan Bilal Indrajaya dengan energi punk The Jansen.
Mengiringi peluncuran audionya, video lirik “Juara Dua” telah resmi mengudara untuk mempertegas pesan kontemplatifnya, disusul oleh visualisasi video musik penuh yang siap melengkapi babak perenungan ini. Sebuah pengingat manis bahwa terkadang, melambat dan menepi bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk keberanian paling murni.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post