Pembalap andalan Red Bull Ford, Max Verstappen, sukses mengamankan podium pertama dalam balapan dramatis di Grand Prix Bahrain yang berlangsung di sirkuit internasional akhir pekan lalu. Kemenangan ini menjadi sangat monumental karena diraih lewat perjuangan keras dari posisi belakang akibat start buruk, sekaligus menandai kemenangan perdana bagi mesin baru hasil kolaborasi Red Bull dan Ford.
Memulai balapan dari posisi terdepan (pole position), Verstappen langsung kehilangan momentum sesaat setelah lampu hijau menyala. Masalah teknis pada kopling membuat jet daratnya kehilangan tenaga, memaksa pembalap asal Belanda tersebut tercecer di belakang duo Mercedes, Kimi Antonelli dan George Russell, saat memasuki Tikungan 1.
Ketenangan dan Strategi Jitu Ban Soft
Menghadapi situasi sulit sejak awal balapan, Verstappen mengaku tidak panik. Juara dunia empat kali tersebut menekankan bahwa ketenangan mental menjadi kunci utama yang menyelamatkan balapannya dari kehancuran di fase awal.
“Saya tidak terkejut karena start saya memang mengerikan. Sekali lagi, saat menekan kopling, saya tidak punya tenaga. Mesin benar-benar mati,” ujar Verstappen mengenang momen krusial tersebut. Namun, ia memilih untuk tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan demi mempertahankan posisi serta menjaga peluang di balapan yang masih panjang.
Momentum kebangkitan Red Bull terjadi saat periode safety car yang dipicu oleh insiden pembalap Cadillac, Valtteri Bottas. Tim mekanik Red Bull mengambil keputusan taktis yang sangat berani dengan mengganti ban ke kompon lunak (soft). Di sisi lain, kubu Mercedes memilih untuk mempertahankan ban medium untuk Antonelli.
Keputusan tersebut terbukti jitu. Memanfaatkan cengkeraman ekstra dari ban soft yang baru, Verstappen langsung melancarkan manuver agresif dan berhasil menyalip pemimpin balapan di Tikungan 1 sesaat setelah restart dilakukan. Verstappen akhirnya menyentuh garis finis dengan keunggulan 2,307 detik atas Kimi Antonelli di posisi kedua, disusul Lewis Hamilton dari Ferrari di podium ketiga.
Tonggak Sejarah Baru Red Bull-Ford
Kemenangan ini tidak sekadar menambah koleksi trofi Verstappen, melainkan juga mengukir sejarah baru bagi Red Bull Racing. Ini adalah kemenangan pertama bagi tim asal Austria tersebut dengan menggunakan unit daya (power unit) yang dikembangkan secara mandiri di fasilitas mereka di Milton Keynes, bekerja sama dengan raksasa otomotif Amerika Serikat, Ford.
Bagi Ford sendiri, hasil manis di Bahrain ini memutus dahaga kemenangan panjang di ajang Formula 1. Pabrikan legendaris ini terakhir kali merasakan podium pertama pada Grand Prix Brasil musim 2003 silam lewat pembalap Giancarlo Fisichella yang kala itu membela tim Jordan-Ford.
Chief Executive Officer (CEO) Ford, Jim Farley, yang memantau langsung jalannya balapan memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi luar biasa Verstappen. Menurut Farley, dedikasi pembalap berusia 27 tahun itu melampaui tugasnya di balik kemudi.
“Max melakukan lebih dari sekadar meminta angka. Dia memberikan begitu banyak kontribusi untuk proyek pengembangan mesin ini, bahkan di luar mobil,” ungkap Farley, senada dengan pernyataan Kepala Tim Red Bull, Laurent Mekies.
Kemitraan solid ini menjadi sinyal kuat bahwa duet Red Bull-Ford siap menjadi penantang gelar yang sangat serius, sekaligus menjadi modal berharga dalam menyongsong perubahan regulasi teknis mesin baru Formula 1 yang akan mulai diberlakukan pada musim 2026 mendatang.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post