Seni Melepas dan Elegi Batas Diri
Dalam dinamika hubungan asmara, seringkali kita terjebak dalam ilusi bahwa keteguhan hati adalah segalanya. Namun, apa jadinya jika keteguhan itu justru menjadi belenggu yang menyiksa? Inilah esensi emosional yang ditangkap dengan sangat apik dalam kolaborasi terbaru antara Stevan Pasaribu dan maestro musik Andi Rianto melalui single bertajuk “siapa yang tahan”.
Lagu ini bukan sekadar balada patah hati biasa. Ia adalah sebuah refleksi jujur tentang titik jenuh seseorang yang lelah berjuang sendirian. Ditulis bersama oleh Andi Rianto, Stevan Pasaribu, dan Kamga, liriknya memotret realita pahit tentang pasangan yang egois dan keras kepala, memaksa sang tokoh utama untuk akhirnya menatap cermin dan mengakui bahwa ia memiliki batas toleransi.
Simfoni Megah di Balik Luka
Kekuatan utama “siapa yang tahan” terletak pada kemasan produksinya yang megah. Andi Rianto, yang bertindak sebagai produser dan penata aransemen, tidak tanggung-tanggung dalam memberikan sentuhan kelas dunia. Ia melibatkan Budapest Scoring Orchestra—kelompok orkestra asal Hungaria yang jam terbangnya telah teruji dalam berbagai proyek film dan gim internasional—untuk memberikan kedalaman emosional pada aransemen musiknya.
Nuansa orkestral yang megah tersebut berpadu harmonis dengan elemen modern. Kehadiran Rishanda Singgih pada synth bass, Devinza Kendranata pada gitar, serta pukulan dramatis dari Rio Alief pada drum menciptakan ruang sonik yang luas dan megah. Tak berhenti di situ, kualitas audio lagu ini dipastikan prima melalui proses mastering oleh Randy Merrill dari Sterling Sound, Amerika Serikat, yang memberikan polesan akhir berstandar global.
Keberanian untuk Memilih Diri Sendiri
Stevan Pasaribu mengungkapkan bahwa pesan di balik lagu ini melampaui sekadar narasi perpisahan. Baginya, ini adalah tentang validasi diri. “Kadang kita bertahan bukan karena semuanya masih baik-baik saja, tapi karena masih berharap keadaan bisa berubah. Sampai akhirnya kita sadar bahwa hubungan itu nggak bisa diperjuangin sendirian,” ungkap Stevan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa “siapa yang tahan” adalah sebuah manifestasi keberanian. Mengakui bahwa kita memiliki batas adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri. Pesan ini diperkuat secara visual melalui video musik arahan Bagoes Tresna Adji, yang menampilkan dinamika hubungan toksik—mulai dari posesif hingga pengkhianatan—yang diperankan dengan intens oleh Nicholas Andersen dan Julliete Wirawan.
Setelah sukses dengan album perdana Harapan pada 2023 lalu, kolaborasi ini menjadi penanda evolusi musikalitas Stevan Pasaribu yang kian matang. Lewat “siapa yang tahan”, ia tidak hanya menyuguhkan lagu yang enak didengar, tetapi juga sebuah pengingat bagi siapa saja yang sedang berjuang di hubungan yang salah: bahwa terkadang, melepaskan adalah bentuk perjuangan yang paling mulia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post