Dua Nelayan Ternate Mengukir Cerita di Danau Nuklir Rusia
Dua nelayan tradisional asal Ternate, Maluku Utara, mendapat kesempatan langka untuk berkompetisi dalam ajang memancing internasional di Rusia. Berada di tengah suhu ekstrem yang hampir mencapai titik beku, kedua pemancing tersebut menjajal peruntungan mereka di perairan air tawar yang berbatasan langsung dengan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kalinin.
Keduanya adalah Nasrun Masraoly (48) dan Nurdjan Soleman (67). Mereka mewakili Indonesia dalam ajang IV International Fishing Tournament yang diselenggarakan oleh badan usaha energi atom nasional Rusia, Rosatom State Atomic Energy Corporation, di Kota Udomlya, Wilayah Tver.
Kehadiran mereka di perbatasan wilayah artik ini menjadi sorotan tersendiri. Berbeda dengan peserta dari negara lain yang berstatus pemancing profesional dengan perlengkapan modern, Nasrun dan Nurdjan datang membawa kearifan lokal serta pengalaman bertahun-tahun mengarungi lautan lepas di Indonesia timur.
Inovasi Umpan Rakitan di Tengah Cuaca Ekstrem
Tantangan bagi tim Indonesia sudah terasa sejak sebelum perlombaan dimulai. Tanpa membawa joran khusus maupun perlengkapan pancing air tawar dari daerah asal, kedua nelayan ini harus memutar otak untuk menyesuaikan diri dengan kondisi perairan setempat yang terbilang asing.
Di kamar hotel mereka menjelang hari pertandingan, Nasrun dan Nurdjan secara mandiri merakit umpan buatan (lure) memanfaatkan bahan-bahan sederhana. Lembaran aluminium berwarna-warni, tutup botol, hingga bekas bungkus makanan disulap menjadi umpan pancing yang siap digunakan untuk menarik perhatian ikan-ikan predator air tawar.
“Dari Ternate, kami tidak membawa joran. Kami biasa memancing di laut, bukan air tawar. Di laut biasanya menggunakan umpan bulu-bulu, tetapi di sini kami beradaptasi dengan bahan seadanya,” ungkap Nasrun di sela-sela perakitannya.
Kondisi fisik juga menjadi tantangan besar, mengingat perbedaan iklim yang sangat mencolok. Suhu udara di sekitar lokasi yang menusuk kulit memaksa rombongan Indonesia mengandalkan pelindung ekstra serta pemanas tangan konvensional untuk menjaga fleksibilitas jemari selama merakit kail.
Aksi Memancing di Perairan PLTN Kalinin
Lokasi perlombaan, Danau Udomlya, menyajikan lanskap yang unik sekaligus futuristik. Dengan luas mencapai 1.010 hektare dan kedalaman hingga 16 meter, danau ini merupakan perairan penampung yang dimanfaatkan untuk mendukung operasional pendataan ekologis dan pendinginan sekunder fasilitas PLTN Kalinin—salah satu kawasan pembangkit listrik berbasis nuklir terbesar di kawasan tersebut.
Meski berdampingan dengan instalasi nuklir, Danau Udomlya menyimpan ekosistem perairan yang sangat kaya. Tak kurang dari 23 spesies ikan hidup di danau ini, termasuk zander, pike, perch, carp, hingga lele Amerika (catfish).
Hari perlombaan dimulai pukul 08.00 waktu setempat di bawah kepungan kabut tebal dan suhu berkisar antara 1 hingga 3 derajat Celsius. Tim Indonesia tampil mencolok setelah memenangkan pengundian nomor urut pertama. Perahu cepat yang membawa rombongan Merah Putih bersandar di gardu terdepan dermaga, berdampingan dengan pemandu lokal berpengalaman, Alex Ostrovsky.
Turnamen ini menerapkan aturan ketat berstandar konservasi internasional dengan sistem catch and release. Seluruh ikan yang berhasil dipancing oleh para peserta wajib diukur, didata, lalu dilepaskan kembali ke habitatnya secara aman tanpa merusak ekosistem danau.
Ajang internasional ini tidak hanya menjadi wadah kompetisi olahraga air, tetapi juga menjadi sarana diplomasi kebudayaan informal yang mempererat hubungan antarmasyarakat dari 11 negara peserta mitra. Kehadiran bendera Merah Putih di perairan dingin Udomlya menjadi simbol partisipasi aktif komunitas nelayan Nusantara dalam kancah olahraga perikanan global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post