Siasat Mematikan Sang Tabib dan Ujung Tragis Kekuasaan Jayanegara di Majapahit
Masa akhir pemerintahan Raja Jayanegara di Kerajaan Majapahit mencatatkan salah satu lembaran paling kelam sekaligus krusial dalam sejarah Nusantara. Peristiwa tragis yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Patanca atau Tanca pada tahun 1250 Saka (1328 Masehi) itu menjadi titik balik penting yang mengubah dinamika politik kerajaan terbesar di masa lalu tersebut.
Sejarawan kawakan asal Malang, Suwardono, mengungkapkan bahwa intrik politik di balik terbunuhnya penguasa kedua Majapahit tersebut berawal dari ketegangan internal istana. Berdasarkan naskah kuno Serat Pararaton, Jayanegara diketahui memiliki dua saudara perempuan seibu beda ayah yang merupakan putri keturunan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari.
“Dalam kisah Pararaton, kedua putri tersebut tidak diperbolehkan menikah oleh Jayanegara dan bahkan menerima perlakuan yang tidak semestinya dari sang raja,” ujar Suwardono saat mengulas fakta-fakta sejarah Kerajaan Majapahit.
Muslihat Pengobatan dan Tikaman di Pembarakan Raja
Kabar mengenai sikap kontroversial sang raja akhirnya sampai ke telinga istri Tanca, seorang tabib istana yang juga merupakan anggota kelompok elite Dharmaputra. Informasi sensitif tersebut kemudian diteruskan oleh Tanca kepada Gajah Mada, yang kala itu menjabat sebagai pejabat berpengaruh di lingkungan istana.
Tak lama setelah kabar tersebut merebak, Raja Jayanegara jatuh sakit akibat menderita bisul parah di area sekitar pusar. Kondisi fisik yang memburuk memaksa sang raja harus berbaring total dan membutuhkan tindakan medis darurat.
Sebagai tabib kerajaan, Tanca dipanggil untuk melakukan prosedur pembedahan. Suwardono menjelaskan bahwa proses pengobatan tersebut tidak berjalan lancar pada awalnya karena raja mengenakan jimat pelindung.
“Pada percobaan berikutnya, setelah jimat atau kemitan yang dikenakan Jayanegara dilepas, Tanca berhasil membedah penyakit tersebut. Namun, seketika setelah tindakan medis selesai, Tanca justru menikam Jayanegara hingga sang raja tewas seketika di pembarakannya,” lanjut Suwardono.
Melihat aksi nekat tersebut, Gajah Mada bergerak cepat dan langsung mengeksekusi Tanca di tempat kejadian. Peristiwa berdarah ini diabadikan dalam Serat Pararaton melalui candrasengkala berbunyi “Basmi Buta Nangani Ratu”, yang menandai tahun 1250 Saka.
Pentingnya Verifikasi Sumber Sejarah Sejenis
Meski naskah Serat Pararaton menyajikan narasi yang sangat detail dan dramatis, Suwardono mengingatkan para pecinta sejarah di Malang Raya agar tidak menelan mentah-mentah kisah tersebut sebagai satu-satunya rujukan faktual.
Menurutnya, Serat Pararaton ditulis jauh setelah era kejayaan Majapahit berakhir. Oleh karena itu, penanggalan serta latar belakang peristiwa perlu diuji silang dengan sumber primer lain, seperti batu prasasti maupun catatan kronik asing dari Tiongkok.
“Sumber-sumber sejarah pembanding sangat diperlukan untuk melakukan verifikasi, agar gambaran mengenai kepemimpinan Jayanegara tidak semata-mata didasarkan pada satu naskah sastra,” tegas Suwardono.
Ia menambahkan, penelusuran prasasti menunjukkan bahwa masa pemerintahan Jayanegara tidak hanya diwarnai oleh intrik, pemberontakan, dan konflik domestik. Berbagai bukti otentik justru mencatat adanya roda pemerintahan yang tetap berjalan aktif, lengkap dengan hubungan diplomatik serta perdagangan internasional yang terjalin luas antara Majapahit dan kerajaan-kerajaan luar Nusantara.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post