LAMPUNG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat melanda kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung. Kobaran api yang terus meluas kini dilaporkan mulai mendekati Pusat Latihan Gajah (PLG), salah satu fasilitas konservasi paling vital di Indonesia. Guna mencegah bencana ekologis yang lebih besar, tim pemadam kebakaran gabungan langsung mengerahkan personel darat secara masif serta bantuan helikopter pengebom air (water bombing).
Titik api terbaru terdeteksi di tiga lokasi strategis, yaitu wilayah RPTN Toto Projo, SPTN Wilayah I Bungur, dan area yang berbatasan langsung dengan Desa Tambah Dadi di Kecamatan Purbolinggo. Kondisi cuaca ekstrem dan karakteristik lahan membuat upaya pemadaman menjadi sangat menantang.
Kendala Lahan Gambut dan Angin Kencang
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, mengungkapkan bahwa api sulit dijinakkan karena membakar lahan gambut yang sangat kering akibat kemarau. Kondisi ini diperparah oleh tebalnya vegetasi semak belukar serta hembusan angin kencang yang dengan cepat menerbangkan bara api ke area baru.
“Kombinasi antara lahan gambut yang kering, semak belukar yang rapat, dan angin kencang membuat api terus bertahan dan cepat menyebar,” ujar Zaidi menjelaskan situasi di lapangan.
Untuk mengatasi krisis ini, otoritas taman nasional telah memobilisasi kekuatan penuh. Personel gabungan yang diterjunkan terdiri dari petugas TNWK, jajaran TNI, Polri, mitra lapangan, serta Komite Bersama Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Manusia-Gajah.
Operasi Udara dan Akses Air yang Terbatas
Upaya pemadaman darat sempat terhambat oleh sulitnya medan geografis dan terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Menghadapi kendala tersebut, satu unit helikopter dikerahkan ke lokasi untuk melakukan operasi pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing pada titik-titik yang sulit dijangkau oleh petugas darat.
Hingga Selasa, tim gabungan berhasil memadamkan satu dari tiga titik api utama, sementara upaya lokalisasi dan pemadaman di dua titik lainnya masih terus berlangsung secara intensif. Pihak otoritas taman nasional sejauh ini belum merilis estimasi resmi mengenai total luas lahan yang hangus terbakar.
Ancaman Terhadap Populasi Gajah Sumatera
Meskipun arah lidah api dilaporkan terus mendekati kompleks Pusat Latihan Gajah, otoritas memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai gajah yang terluka atau terdampak langsung oleh asap kebakaran. Kendati demikian, kesiapsiagaan tetap ditingkatkan pada level tertinggi.
Taman Nasional Way Kambas memiliki luas sekitar 125.631 hektare dan menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelangsungan hidup satwa endemik yang dilindungi. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, saat kunjungan kerja ke taman nasional tersebut, diperkirakan ada sekitar 146 hingga 170 ekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar yang hidup di kawasan ini.
Selain populasi liar, data dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) mencatat terdapat sedikitnya 37 ekor gajah jinak yang dirawat dan dilatih di Pusat Latihan Gajah Way Kambas. Saat ini, fokus utama petugas adalah menyekat pergerakan api agar tidak menembus batas luar pusat latihan serta area konservasi penting lainnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post