MALANG TODAY – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya memicu krisis kesehatan masyarakat, tetapi juga melumpuhkan perekonomian warga kecil. Kelompok pekerja harian, pedagang kaki lima, hingga pengemudi ojek online (ojol) kini harus menanggung beban ganda: terancam penyakit saluran pernapasan sekaligus kehilangan pendapatan hingga lebih dari setengahnya.
Kondisi ini membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, membayar tagihan bulanan, hingga membiayai pendidikan anak. Berdasarkan hasil riset Center of Economic and Law Studies (CELIOS), potensi kerugian ekonomi akibat karhutla sepanjang Januari hingga Agustus 2026 diperkirakan menembus angka Rp29,54 triliun. Angka ini mencakup kerusakan lahan, terhambatnya rantai pasok perdagangan, hingga penurunan drastis pada sektor kuliner dan jasa.
Jeritan Pekerja Harian: Pendapatan Anjlok, Kesehatan Memburuk
Dampak nyata bencana asap dirasakan langsung oleh masyarakat di lapangan. Di Pekanbaru, Riau, Imrayedi (63), seorang pengemudi ojol, mengaku tetap harus mengaspal meski jarak pandang sangat terbatas dan udara terasa menyesakkan. Dalam sepekan terakhir, ia kerap mengalami sesak napas, sakit kepala, hingga kotoran hidungnya menghitam akibat paparan polusi asap.
Selain mengancam keselamatan jiwanya, sepinya penumpang akibat penghentian aktivitas sekolah dan imbauan berdiam di rumah membuat pendapatannya merosot tajam. Jika dalam kondisi normal ia sanggup mengantongi Rp200.000 per hari, kini Imrayedi hanya mampu membawa pulang rata-rata Rp75.000.
Kondisi serupa dialami Emlya Dhea Francyska (34), pengemudi ojol di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kualitas udara di wilayahnya yang mencapai level sangat tidak sehat memicu lonjakan pembatalan pesanan. Penghasilannya bersama suami merosot drastis hingga kerap hanya memperoleh puluhan ribu rupiah sehari, yang habis hanya untuk membeli BBM dan kebutuhan dapur mendesak.
Pedagang Terjepit Lonjakan Harga Bahan Pokok
Krisis ekonomi ini juga memukul para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Khotim Octavia (46), pemilik warung soto di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, harus mengurut dada lantaran omzet harian warungnya merosot dari Rp1,5 juta menjadi hanya Rp200.000 hingga Rp500.000 sejak kabut asap pekat melanda.
Penurunan omzet ini diperparah oleh melonjaknya harga komoditas bahan pokok akibat terganggunya jalur distribusi. Harga bahan baku seperti cabai dan daun bawang naik hingga dua kali lipat. Akibatnya, modal usaha tak lagi tertutup dan Khotim terpaksa menunggak pembayaran tagihan listrik, internet, serta biaya sekolah anak-anaknya.
Pemerintah Didorong Salurkan Bantuan dan Restrukturisasi Modal
Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menilai karhutla menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi regional di Sumatra dan Kalimantan. Menurutnya, kerugian terbesar dialami oleh sektor informal yang tidak memiliki cadangan modal saat terjadi penurunan mobilitas warga.
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mendesak pemerintah agar tidak hanya berfokus pada upaya pemadaman titik api, tetapi juga menyiapkan program jaring pengaman sosial dan pemulihan ekonomi.
CELIOS merekomendasikan pemerintah untuk segera membagikan bantuan tunai langsung (BLT) sebesar 30% dari Upah Minimum Provinsi (UMP) khusus bagi pekerja informal dan UMKM terdampak. Selain itu, pemerintah berkoordinasi dengan otoritas keuangan untuk memberikan kemudahan restrukturisasi pinjaman bagi para pelaku usaha kecil guna mencegah timbulnya utang rumah tangga yang masif dan penutupan usaha secara permanen.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post