JAKARTA — Suasana The Brick Hall di Fatmawati City Center, Jakarta, riuh oleh sorak-sorai penonton. Lampu sorot warna-warni menyapu wajah para pemain dan pengunjung muda yang memadati arena Jakarta Game On 2026. Di salah satu sudut, suara komentator menggelegar melaporkan jalannya pertandingan gim Honor of Kings (HOK).
Di balik keriuhan kompetisi dan adu gengsi tersebut, terdapat denyut nadi ekonomi yang berdetak kencang. Bagi generasi terdahulu, bermain gim sering kali dicap sebagai aktivitas buang-buang waktu. Namun, stigma itu perlahan luntur di era Generasi Z (Gen Z). Gim, animasi, dan budaya digital kini bukan sekadar pelarian dari rutinitas, melainkan jalan menuju kemandirian finansial.
Dukungan Orang Tua dan Jalan Menjadi Atlet Profesional
Di barisan kursi penonton, Fera Gunawaty (43) fokus menatap layar raksasa. Anak laki-lakinya, Justine (15), sedang bertanding membela tim esports sekolahnya. Senyum bangga sesekali mengembang di wajah ibu rumah tangga tersebut saat tim anaknya memenangkan pertempuran.
“Dulu saya sering mengeluh. Namanya anak laki-laki, sering mengurung diri di kamar cuma untuk main gim. Saya sempat khawatir pendidikannya terganggu,” kenang Fera yang mengaku sempat menentang hobi anaknya sejak duduk di bangku SD.
Titik balik terjadi dua tahun lalu ketika Justine membawa pulang hadiah uang tunai Rp1 juta hasil juara ketiga turnamen lokal. Sejak saat itu, Justine mulai mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari hobinya. Hadiah kompetisi bahkan digunakannya untuk membeli perangkat komputer baru demi mengembangkan kemampuan digital lain, seperti membuat konten gim.
Melihat dampak positif tersebut, Fera kini memberikan dukungan penuh. Meski Justine harus mengizinkan diri dari sekolah demi mengikuti ajang ini, Fera percaya putranya mampu menyeimbangkan pendidikan dan hobi. Ia mengaku terharu melihat sang anak sudah bisa menghasilkan pendapatan sendiri di usia muda.
Potensi Industri Gim Indonesia Tembus Rp32 Triliun
Peluang ekonomi di dunia gim tidak hanya terbuka bagi para pemain di panggung kompetisi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat nilai pasar industri gim di Indonesia mencapai sekitar Rp32 triliun pada 2025.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa dampak ekonomi industri gim melampaui aktivitas bermain gim itu sendiri. Ekosistem ini menciptakan peluang kerja luas, mulai dari atlet esports, pembuat konten, pengembang aplikasi, desainer grafis, animator, penulis cerita, hingga pengarah audio.
Mengubah Kegemaran Budaya Populer Menjadi Bisnis
Selain panggung utama kompetisi, nuansa wirausaha muda juga terasa kuat di deretan stan pameran. Para pelaku usaha kreatif memanfaatkan kegemaran masyarakat terhadap budaya populer menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
Naufal (25), seorang mahasiswa, tampak sibuk melayani pembeli di stannya. Ia menjual beragam pernak-pernik anime buatan sendiri, mulai dari kaus sablon, stiker, gantungan kunci, boneka, hingga kertas binder. Usahanya berawal dari hobi menonton anime yang kemudian dikembangkan menjadi bisnis kecil-kecilan.
“Awalnya saya cuma iseng mempromosikan barang dagangan di TikTok dan Instagram. Ternyata hasilnya lumayan dan banyak pesanan. Dari yang cuma suka nonton anime, sekarang justru dapat keuntungan,” ujar Naufal.
Naufal mengaku sempat mendapat cemoohan dari lingkungan sekitar yang menganggap kegemarannya tidak dewasa. Namun, cemoohan tersebut dijadikan motivasi. Lewat pemasaran digital yang konsisten, kini hasil penjualannya mampu membantu membiayai uang kuliahnya sendiri.
Kisah Justine dan Naufal menjadi bukti nyata bagaimana Gen Z merespons perkembangan teknologi. Di balik monitor dan riuhnya arena Jakarta Game On 2026, mereka berhasil mengubah aktivitas yang dulu dipandang sebelah mata menjadi roda penggerak ekonomi yang nyata.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post