Tragedi di Balik Kemegahan Tweed: Kisah Virginie Viard dan Akhir Sunyi di Chanel
Dunia mode global dikejutkan oleh salah satu guncangan takhta paling dramatis dalam sejarah modern. Hanya dalam hitungan jam pada malam 5 Juni 2024, Virginie Viard, direktur artistik yang telah mendedikasikan tiga dekade hidupnya untuk rumah mode legendaris Chanel, harus merelakan posisinya berakhir seketika. Sebuah kalimat dingin dari salah satu pemilik Chanel, “Kita akhiri sampai di sini,” menjadi titik penutup yang brutal bagi sang desainer. Lewat autobiografi terbarunya yang bertajuk “Un regard, Une Vie chez Chanel” (Terbitan Éditions Stock), Viard membuka tabir keheningan industri haute couture dan mengisahkan keruntuhan takhtanya yang terjadi tepat di ambang persiapan peragaan busana yang ia rancang sendiri.
Langkah Viard menulis memoar ini menjadi sebuah anomali yang sangat langka di panggung mode tinggi yang biasanya penuh rahasia dan diplomatis. Ia membedah secara jujur dinamika internal, intrik koridor, hingga perasaan terisolasi di dalam “kepompong tweed” yang selama ini melindunginya dari dunia luar sejak ia pertama kali masuk sebagai anak magang pada tahun 1987 hingga ditunjuk menggantikan sang maestro Karl Lagerfeld pada tahun 2019.
Bayang-Bayang Sang Maestro dan Badai di Marseille
Menjadi penerus langsung dari ikon sebesar Karl Lagerfeld bukanlah perkara mudah. Bagi Viard, beban terbesar dalam kariernya adalah menjembatani transisi setelah era keemasan sang mentor. Selama bertahun-tahun, peran utama Viard adalah memastikan visi artistik Lagerfeld terwujud dengan sempurna di atas runway. Ketika Lagerfeld sibuk dengan puluhan proyek kreatifnya, Viard-lah sosok di balik layar yang menjaga fondasi Chanel tetap kokoh berdiri.
Namun, badai mulai menerpa ketika Viard berdiri sepenuhnya di bawah lampu sorot utama. Satu bulan sebelum pemecatannya, Chanel menggelar peragaan busana di atap Cité Radieuse, Marseille, di bawah guyuran hujan deras. Koleksi tersebut mendapat kritik tajam dari para kritikus mode dan pencinta gaya hidup. Dalam bukunya, Viard menuliskan kepedihan mendalam karena merasa tidak ada satu pun pihak di dalam internal rumah mode yang mencoba membantunya menyelamatkan presentasi tersebut dari kegagalan estetika.
Intrik Koridor Mode dan Kepompong yang Terlalu Sunyi
“Saya menyadari bahwa saya terlalu lugas, terlalu emosional, dan mungkin terlalu tua untuk permainan catur yang dimainkan di koridor rumah mode besar,” ungkap Viard. Berbeda dengan Lagerfeld yang flamboyan dan selalu menjadi pusat perhatian media, Viard memilih jalan sunyi. Ia menghindari wawancara, menolak publisitas berlebih, dan langsung menghilang ke belakang panggung sesaat setelah membungkuk memberi hormat di akhir peragaan busana.
Keputusan untuk menutup diri dalam rutinitas pembuatan koleksi tahunan yang tanpa henti membuat Viard terisolasi. Ia mengakui kesalahan terbesarnya adalah tidak menunjuk rekan kerja yang tangguh—seorang figur penyeimbang seperti “Karl” bagi dirinya—untuk membantunya mengelola tekanan industri yang masif. Setelah melewati dua tahun masa introspeksi dan bimbingan pemulihan emosional, Viard akhirnya mampu berdamai dengan kenyataan pahit tersebut.
Angka Fantastis versus Kritik Estetika
Di bawah kepemimpinan kreatif Viard, Chanel sebenarnya mencatat kesuksesan komersial yang luar biasa, dengan angka penjualan menembus rekor hampir 20 miliar dolar AS pada tahun 2023. Namun, bagi Viard, angka-angka di atas kertas bukanlah fokus utamanya. Fokusnya adalah merancang busana siap pakai (ready-to-wear) dan adibusana yang anggun, meskipun lingkaran mode sering mengkritik siluet rancangannya yang dinilai kurang berani mengambil risiko dan terkadang ragu-ragu dalam arah desain.
Estetika Chanel kemudian beralih arah secara radikal ketika desainer muda Blazy ditunjuk sebagai suksesornya pada tahun 2025. Koleksi perdana Blazy yang segar langsung mendapat pujian global dan habis terjual dalam sekejap, menandai era baru yang menjauh dari kesan klasik tradisional. Bagi Viard, menyaksikan peragaan busana Chanel saat ini masih menyisakan kepedihan mendalam, yang hanya sanggup ia intip sedikit demi sedikit melalui dokumentasi keesokan harinya.
Masa Depan dan Kerinduan akan Keintiman Mode
Kini, setelah badai mereda, Viard perlahan kembali muncul di ruang publik, salah satunya saat menghadiri peragaan busana sahabatnya, Stella McCartney. Ia merasa lega karena para tokoh berpengaruh di industri mode tidak sepenuhnya mengucilkannya setelah kepergiannya yang kontroversial dari Chanel.
Melihat lanskap mode modern saat ini, Viard melayangkan kritik bahwa industri fesyen kini telah kehilangan “keintiman” personalnya. Mode masa kini dinilai terlalu seragam, di mana semua orang dituntut untuk melihat ke satu arah yang sama, padahal esensi gaya sejati haruslah dinamis dan terus mengalir. Meski telah menerima berbagai tawaran dari berbagai rumah mode dunia, Viard memilih selektif. Ia masih menanti sebuah pertemuan yang mampu memercikkan kembali gairah kreatif dan mimpi indahnya tentang seni merancang busana.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post