JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI terus mematangkan penataan kawasan dan integrasi moda transportasi pascapengalihan layanan KRL Commuter Line dari Stasiun Karet ke Stasiun Sudirman Baru (BNI City) yang diberlakukan sejak 1 September 2026. Langkah strategis ini dilakukan guna memperlancar aksesibilitas serta pergerakan pengguna jasa transportasi publik di salah satu pusat koridor bisnis utama ibu kota.
Progres perbaikan di lapangan menunjukkan bahwa pengerjaan struktur bawah telah rampung diselesaikan. Saat ini, tim teknis fokus menyelesaikan pemasangan struktur baja di sejumlah titik krusial guna memperkuat infrastruktur pendukung di sekitar Stasiun Karet dan Sudirman Baru.
Lonjakan Volume Penumpang di Stasiun Sudirman Baru
Perubahan pola operasional tersebut berdampak signifikan terhadap distribusi pergerakan penumpang. Data internal PT KAI mencatat, sebelum kebijakan pengalihan diberlakukan, Stasiun Karet membukukan akumulasi 4.909.334 aktivitas masuk-keluar gerbang (tap in/tap out) pada periode Januari hingga Agustus 2026.
Sementara itu, Stasiun Sudirman Baru mencatat total 2.439.757 aktivitas gerbang sepanjang Januari hingga September 2026. Khusus pada September 2026—bulan pertama pengalihan layanan penuh—volume aktivitas pelanggan di Stasiun Sudirman Baru melonjak drastis hingga mencapai 646.411 pergerakan, dibandingkan bulan Agustus yang hanya tercatat sebanyak 190.060 pergerakan.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengonfirmasi bahwa lonjakan lalu lintas penumpang tersebut merupakan implikasi logis dari pergeseran titik layanan KRL di kawasan tersebut. Oleh karena itu, percepatan penataan fasilitas menjadi prioritas utama perseroan.
“Perubahan pola perjalanan perlu diikuti penataan akses. Kami ingin pelanggan dapat bergerak dengan lebih mudah dan nyaman di kawasan Karet serta Sudirman Baru,” ujar Anne dalam keterangannya.
Fasilitas Modern dan Target Penyelesaian Infrastruktur
Untuk mendukung kenyamanan mobilitas harian komuter dan integrasi antarmoda, BUMN transportasi rel ini menyiapkan serangkaian fasilitas infrastruktur pedestrian yang modern. Fasilitas pendukung yang tengah dibangun antara lain satu unit travelator datar sepanjang 20 meter dan dua unit travelator vertikal.
Selain sarana pengangkut mekanis, proyek penataan penunjang ini juga mencakup pembangunan koridor pejalan kaki yang terintegrasi, pembenahan lanskap kawasan, penyediaan area khusus penurunan penumpang (drop-off zone) untuk transportasi lanjutan, eskalator akses baru, hingga pemasangan kanopi selasar pelindung hujan dan panas.
Seluruh rangkaian pekerjaan infrastruktur di kawasan transit terpadu ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada 31 Desember 2026. KAI memastikan bahwa seluruh pengoperasian fasilitas baru akan melalui uji kelayakan dan keselamatan secara menyeluruh sebelum resmi dibuka untuk publik.
“Kami mengawal penataan secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan pelanggan dan kondisi kawasan. Kesiapan fasilitas akan dipastikan secara matang sebelum digunakan,” pungkas Anne.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post