JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat hilirisasi sektor perikanan budi daya guna menembus pasar potensial skala besar. Langkah strategis ini diarahkan untuk memasok kebutuhan bahan pangan berkualitas, salah satunya menyasar jaringan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam mendukung program penyediaan pangan nasional.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan pentingnya peningkatan mutu dan kebersihan produk perikanan darat. Menurutnya, komoditas unggulan seperti lele dan nila tidak lagi sekadar dijual dalam bentuk segar, melainkan harus diolah menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi.
“Komoditas hasil budi daya ikan darat tematik yang dikembangkan KKP saat ini, yaitu lele dan nila, perlu ditangani dan diolah menjadi produk bernilai tambah, bermutu, aman, serta memenuhi permintaan dapur SPPG. Jika ini terpenuhi, para offtaker, termasuk dapur SPPG, akan semakin tertarik untuk menyerap produknya,” ujar Trenggono dalam keterangan resminya pada Jumat (9/10/2026).
Sinergi Kelompok Budi Daya dan Pelaku Usaha
Sebagai langkah konkret, KKP telah menggelar Bimbingan Teknis Diversifikasi dan Nilai Tambah Komoditas Perikanan Berbasis Budi Daya Tematik di Semarang, Jawa Tengah. Agenda tersebut mempertemukan para pengelola budi daya ikan darat berbasis teknologi bioflok dari 100 lokasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh Pulau Jawa dengan para calon pembeli siaga (offtaker).
Para peserta dipertemukan langsung dengan pengelola SPPG, perwakilan industri perhotelan, restoran, penyedia jasa boga, hingga jaringan ritel modern. Pertemuan bisnis ini membuahkan hasil nyata berupa kesepakatan dagang di tingkat lokal.
Tercatat, ajang tersebut menghasilkan 15 Letter of Interest (LoI) serta dua Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk penjualan produk olahan lele siap masak. Kerja sama tahap awal ini terjalin antara KDKMP dengan pengelola SPPG di wilayah Kudus dan Rembang, Jawa Tengah.
Tren Pasar Siap Saji dan Potensi Ekonomi Raksasa
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Erwin Dwiyana, menjelaskan bahwa pergeseran preferensi konsumen saat ini semakin mengarah pada produk perikanan yang praktis dan higienis.
“Produk dengan konsep ready to cook (siap masak), ready to serve (siap saji), dan ready to eat (siap makan) menjadi tren pasar saat ini, dengan tetap mengutamakan mutu, keamanan, dan kandungan gizi pangan. SPPG, hotel, restoran, ritel, dan jasa boga merupakan pasar yang sangat potensial,” ungkap Erwin.
Erwin menggambarkan besarnya potensi ekonomi dari hilirisasi perikanan ini. Di Kota Semarang saja, dengan asumsi keberadaan 180 titik SPPG yang masing-masing membutuhkan sekitar 200 kilogram ikan untuk satu kali penyajian menu, total kebutuhan ikan mencapai 36 ton.
Jika dikalkulasikan dengan harga patokan lele olahan siap masak sebesar Rp25.000 per kilogram, maka nilai transaksi yang berputar dapat menembus Rp900 juta hanya dalam satu kali putaran penyajian menu.
Peluang pasar ini diproyeksikan bakal terus melonjak seiring berlakunya Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Regulasi ini secara tegas mendorong integrasi menu berbasis ikan ke dalam skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post