BIMA — Upaya penguatan kemandirian sektor kelautan dan perikanan terus digenjot di tingkat daerah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara konsisten mendorong hilirisasi komoditas garam rakyat agar memiliki daya saing tinggi. Langkah strategis ini salah satunya diwujudkan melalui pendampingan terhadap Koperasi Produsen Tahu Tempe dan Garam Indonesia Nanga Tolo Sia di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang sukses meluncurkan produk inovatif unggulan berlabel Garam Merah Putih Bima.
Produk garam olahan lokal tersebut kini dipastikan siap merambah dan bersaing ketat di pasar komersial, baik dalam skala regional maupun nasional. Kesiapan distribusi ini ditandai dengan pemenuhan seluruh regulasi dan legalitas usaha, mulai dari sertifikasi halal, izin edar resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hingga kelengkapan perizinan usaha terpadu.
Mendorong Hilirisasi Menuju Swasembada Garam 2027
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan komitmen pemerintah untuk mendampingi para petambak garam dari sektor hulu hingga hilir. Menurutnya, transformasi dari sekadar penyedia bahan baku menjadi produsen barang jadi bernilai tambah tinggi merupakan kunci utama kesejahteraan petambak sekaligus akselerasi kemandirian pangan nasional.
“KKP akan terus mendukung usaha-usaha pergaraman masyarakat sehingga tidak hanya kuat di hulu, tetapi juga mampu mengolah produksinya menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Kami mengupayakan keberhasilan ini tidak hanya berhenti di Bima, melainkan meluas ke wilayah potensial lain di Indonesia sebagai bagian dari pencapaian target swasembada garam nasional pada 2027,” tegas Trenggono dalam keterangan resminya.
Penguatan kapasitas koperasi ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 2024, ketika Koperasi Nanga Tolo Sia menerima hibah unit pabrik pengolahan garam beserta fasilitas washing plant dari Direktorat Sumber Daya Kelautan KKP. Infrastruktur modern ini dirancang khusus untuk meningkatkan derajat kemurnian serta kualitas garam lokal agar mampu memenuhi standar ketat pasar industri dan konsumsi rumah tangga.
Pendampingan Teknis dan Penguatan Strategi Pemasaran
Guna memastikan operasional berjalan optimal, KKP mengendalikan pendampingan berkelanjutan melalui Balai Besar Produksi Garam yang membawahi wilayah kerja Jawa Timur, Bali, NTB, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), modernisasi teknik produksi, manajemen pengolahan, hingga tata kelola bisnis koperasi.
Kepala Balai Besar Pengelolaan Garam KKP, Muhammad Zaki Mahasin, menyoroti pentingnya penetapan strategi pemasaran yang adaptif dan terstruktur untuk menjamin keberlanjutan bisnis koperasi di masa depan.
“Koperasi harus memastikan tiga segmen pasar utama dapat tergarap dengan baik, yakni garam olahan, garam olahan beryodium, serta garam krosok. Masing-masing produk harus memiliki target pasar yang jelas. Oleh karena itu, pengurus koperasi wajib membentuk tim pemasaran yang solid demi menjaga keberlanjutan usaha ke depan,” papar Zaki.
Menyerap Hasil Panen dan Memperkuat Ekosistem Petambak Lokal
Ketua Koperasi Nanga Tolo Sia, Kisman, menyatakan bahwa unit usaha yang dipimpinnya tidak hanya fokus memproduksi garam konsumsi kemasan, tetapi juga menyediakan layanan jasa pengolahan garam yang dapat dimanfaatkan oleh para petambak maupun distributor skala besar.
“Koperasi mengoptimalkan operasional fasilitas washing plant untuk mengolah sekaligus menyerap secara maksimal hasil panen garam petambak lokal. Kami berkomitmen memperkuat ekonomi anggota melalui peningkatan produktivitas lahan, baik lewat strategi ekstensifikasi, intensifikasi, maupun diversifikasi produk,” ujar Kisman.
Langkah progresif ini menjadi angin segar bagi potensi pergaraman di Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bima, volume produksi garam daerah tersebut mencatatkan angka sekitar 1.200 ton pada tahun 2025, yang ditopang oleh hamparan lahan pertambakan seluas 1.600 hektare.
Kehadiran pabrik pengolahan berbasis koperasi ini menjadi jembatan vital yang menghubungkan petambak garam rakyat dengan rantai pasok industri modern. Selain menaikkan posisi tawar petambak dalam penentuan harga pasar, integrasi hilirisasi ini optimis mampu menekan ketergantungan pada garam impor sekaligus mengokohkan Kabupaten Bima sebagai salah satu sentra industri garam nasional.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post