RI Bidik Mikroalga Jadi Bahan Baku Avtur Ramah Lingkungan
Pemerintah Indonesia tengah serius menjajaki potensi mikroalga sebagai bahan baku alternatif untuk avtur ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari akselerasi transisi energi guna menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.
Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengkaji secara mendalam potensi mikroalga dalam memproduksi bahan bakar hijau ini.
“Mikroalga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi SAF atau bahan bakar hijau,” ujar Hashim saat berbicara dalam forum investasi di Jakarta baru-baru ini.
Sinergi Karbon Industri dan Tantangan Komersialisasi
Hashim menjelaskan bahwa budidaya mikroalga membutuhkan beberapa komponen utama yang melimpah di Indonesia, seperti paparan sinar matahari, lahan kolam yang luas, tenaga kerja, serta pasokan karbon dioksida (CO2). Menariknya, emisi CO2 yang dihasilkan dari industri minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri dapat dimanfaatkan sebagai asupan nutrisi untuk mempercepat pertumbuhan mikroalga tersebut.
Secara biologis, mikroalga mampu menyerap CO2 selama masa pertumbuhannya dan menghasilkan kandungan minyak tinggi yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar. Kendati demikian, tantangan besar masih membayangi komersialisasi teknologi ini. Pemerintah dan pelaku industri masih harus menjawab persoalan terkait tingginya biaya budidaya, kesiapan teknologi pemrosesan, kapasitas produksi massal, hingga analisis siklus emisi total dari bahan bakar yang dihasilkan.
Bagian dari Peta Jalan Biofuel Nasional
Inisiatif pengembangan mikroalga ini sejalan dengan ambisi besar Indonesia dalam memperluas strategi bahan bakar nabati (biofuel) yang mencakup sektor transportasi darat, penerbangan, dan industri lainnya.
Sebelumnya, pemerintah telah merancang peta jalan implementasi kebijakan biodiesel secara progresif. Setelah menerapkan mandatori B40 pada tahun 2025, pemerintah menargetkan peluncuran mandatori B50 pada Juli 2026. Kebijakan ini mewajibkan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit pada bahan bakar solar. Program B50 ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun (sekitar USD 9,5 miliar) dari pengurangan impor solar pada tahun 2026.
Selain mengoptimalkan industri kelapa sawit untuk green diesel dan avtur berbasis minyak jelantah (used cooking oil), diversifikasi ke sektor mikroalga diharapkan dapat memperkaya opsi bahan baku SAF di masa depan.
Sokong Ketahanan Pangan dan Program Makan Bergizi Gratis
Menariknya, pemanfaatan mikroalga tidak hanya terbatas pada sektor energi bersih. Hashim menambahkan bahwa organisme mikroskopis ini juga kaya akan nutrisi dan dapat diolah menjadi pakan ternak serta produk protein tinggi, seperti yang dihasilkan dari varietas Spirulina dan Chlorella.
Potensi protein berbasis mikroalga ini dinilai sangat strategis untuk mendukung program prioritas pemerintah, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan mengoptimalkan produksi protein lokal dari mikroalga, Indonesia berpeluang besar memangkas ketergantungan pada impor bahan baku protein dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara mandiri.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post